Monday, May 30, 2011

Atasi Kemacetan di Surabaya, MTI Usul Hidupkan Trem

http://www.surya.co.id/2011/05/30/atasi-kemacetan-di-surabaya-mti-usul-hidupkan-trem
SENIN, 30 MEI 2011 | 19:37 WIB



SURABAYA | SURYA Online - Jalur trem (kereta yang dijalankan oleh tenaga listrik atau lokomotif kecil) di Jalan Diponegoro-Pasar Kembang, Kota Surabaya, yang sekarang akan dibangun jembatan layang (flyover) perlu dihidupkan kembali sebagai upaya untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut.
“Jalur trem di kawasan tersebut cukup layak untuk mengurangi kemacetan dibandingkan dengan pembangunan ‘flyover’,” kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Joko Setijo, di Surabaya, Senin (30/5/2011).
Menurut Joko, pemerintah pusat harus segera mewujudkan hal itu, karena sangat disayangkan kalau jalur trem dihapus, lalu di lokasi itu justru ditancapkan bangunan flyover.
“Jalur trem di Jalan Diponegoro tercatat mulai dari kawasan Karangpilang-Wonokromo-Jalan Diponegoro-Jalan Pasar Kembang-Stasiun Pasar Turi-Jalan Indrapura dan tembus ke kawasan Ujung di Tanjung Perak itu sangat bermanfaat dan mampu mengurang polusi udara jika jalur trem yang ada berupa trem listrik,” ujar Joko.
Bahkan, lanjut Joko, pembangunan jalur trem lebih murah dibandingkan dengan pembangunan flyover. Berdasarkan penghitungan MTI, pembangunan jalur trem hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 13 miliar per kilometer.
Bila jalur trem Ujung-Karangpilang sepanjang 21 km dihidupkan kembali hanya membutuhkan biaya Rp 273 miliar. Meski biaya ini belum termasuk halte, stasiun, dan depo, namun biaya itu dipandang lebih kecil dari pembangunan jalan layang Diponegoro-Pasar Kembang yang panjangnya sekitar 705 meter, tapi membutuhkan anggaran Rp 175 miliar per kilometer.
“Dari dua sisi itu saja, trem banyak untungnya daripada flyover, karena itu kami harapkan jalur trem di Diponegoro dihidupkan kembali seperti zaman Belanda sampai sekitar 1960-an,” kata Joko.
Terkait dengan ini, pihak MTI mendapat kabar dari konsul Indonesia di Jerman bahwa beberapa kota di negara itu akan menghibahkan tremnya ke Surabaya.
“Syarat utama untuk bisa mendapatkan hibah trem tersebut di antaranya Surabaya harus menjadi ’sister city’ dengan salah kota di Jerman, yakni kota Hamburg atau Bremen. Kalau sudah ada hubungan sister city dengan salah satu kota itu, Jerman akan menghibahkan tremnya ke Surabaya,” papar Joko Setijo.

No comments:

Post a Comment