Saturday, July 30, 2011

Saya Sudah Bosan Menyembah Berhala Sosial Pra Ramadhan




Erianto Anas:

Beberapa hari ini banyak umat Islam sibuk membicarakan tentang pulang mudik, silaturrahmi dan bermaaf-maafan dengan orang tua, mertua dan sanak saudara, bahkan juga sibuk melakukan hal-hal lain seperti membersihkan rumah, mempersiapkan sejumlah uang sebagai bekal, menyelesaikan semua pekerjaan- yang menyita tenaga, membeli segala sesuatu yang sangat diperlukan dan sebagainya. Para pengurus masjid beserta masyarakat sangat sibuk mengurus segala sesuatunya, menyusun program dan rancangan acara, gotong royong dan sebagainya. Singkatnya itulah lazimnya kebiasaan umat Islam setiap tahun dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Tetapi saya menyambut Ramadhan ini dengan sikap biasa-biasa saja. Justru saya sedikit geli melihat begitu kasak-kusuknya umumnya umat Islam dalam hal ini. Saya sendiri tidak bersikeras memaksakan diri untuk pulang mudik hanya sekedar untuk bermaaf-maafan dengan orang tua, mertua dan sanak saudara. Rasanya itu sebuah seremonial dan basa-basi yang terlalu mewah bagi saya. Apalagi ikut hanyut dengan arakan-arakan sosial umat Islam di beberapa daerah, seperti tradisi balimau, ke kuburan dan sebagainya.
Tetapi sebagai umat Islam bukankah kita memang disuruh menyambut dan mengagungkan bulan Ramadhan? Bukankah banyak ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi yang menggambarkan keutamaan-keutamaan bulan tersebut?
Pertanyaan seperti ini memang sudah sering saya dengar. Saya setuju bila silaturrahmi itu dilakukan, bahkan sebaiknya dilakukan sesering mungkin, tidak hanya karena akan menyambut bulan puasa atau pada waktu lebaran. Dengan catatan tentu saja semua itu harus datang dari niat yang tulus, bukan sekedar ritual dan seremonial. 


Tetapi dalam kenyataannya saya melihat silaturrahmi menyambut Ramadhan ini seakan sudah menjelma menjadi tindakan wajib lapor, sebagai absensi ramah tamah atau tour basa-basi sosial, dan secara halus siapa yang tidak melakukannya seakan dipandang kurang bermoral dan kurang beriman. Apalagi semua itu sudah terbalut dan berpalut dalam tradisi balimau, yang tampak seperti rekreasi kolosal.


Dengan bersandar secara harfiah pada sejumlah ayat Alquran dan hadis nabi maka umat Islam yang melakukannya seakan merasa berada di garis kesadaran murni dan selamat dari gugatan iman.
Saya harus mengakui bahwa saat ini saya mulai kurang puas meyakini fenomena keberagamaan umat yang demikian, apalagi untuk meyakini itulah wujud agama yang sesungguhnya.
Saya mulai berpikir dan mengkaji ulang hal-hal seperti itu, mengamati berbagai realitas agama dalam masyarakat secara kritis. Saya terbayang apa yang dibicarakan umat Islam dalam setiap diskusi agama, dan saya selalu ingat apa jawaban setiap umat Islam terhadap pertanyaan-pertanyaan kritis seputar agama.
Sudah lazim bahwa umat Islam setiap membahas, mengkaji dan mengukur segala sesuatu, selalu merujuk pada Alquran, hadist, Nabi, Sahabat, dan seterusnya, seakan-akan begitu mengutip semua itu maka segala persoalan di sini dan ke kinian umat Islam akan terjawab dan selesai dengan sendirinya.
Tentu saja ini bukan berarti saya bermaksud untuk menolak apalagi melecehkan Islam. Tetapi yang menjadi penekanan saya adalah pada inti keasadaran umat, yang selalu bertumpu pada dunia eksternal. Segala sesuatu diukur dengan di luar diri, di luar hari ini, di luar zaman ini. Bagaimana mungkin kita bisa melampaui keadaan kita sendiri, sesuatu yang berada di luar pengalaman nyata kita sendiri, seolah-olah hidup adalah sebuah pengekangan terus menerus ke masa lalu, sehingga baik buruknya seseoroang diukur dengan sejauh mana kehidupannya meniru setepat mungkin detail kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabat, meskipun sebenarnya juga bisa dikilas balik secara kritis: Apakah benar Nabi dan para sahabat persis melakukannya
demikian?
Fenomena menyambut Ramadhan ini seakan mendistorsi wajah agama sebagai sebuah karikatur, sebuah show kesadaran semu, atau di sisi lain tampak sebagai upaya dalam membebaskan diri dari beban piskologis, beban metafisik dan beban sosial. Saya teringat ucapan Karl Marx yang menyatakan bahwa agama adalah candu rakyat. Mungkin praktek agama yang terlihat dalam kehidupan masyarakatnya memang demikian, walaupun umat beragama bersikeras membela agama dan menyerang bahwa ucapan Marx itu keterlaluan.
Memang, ditangan orang-orang tertentu gambaran agama tidak melulu demikian. Karl Jasper misalnya, tetap mengakui keberadaan agama, walaupun agama yang ia pilih adalah agama filosofis (dalam istilahnya sendiri), bukan agama dalam realitas umat atau rakyat yang dinilainya membahayakan, karena penuh dengan keramat, fanatik dan intoleransi.
Artinya, jika keberadaan agama akan diakui, tidak mungkin agama adalah sesuatu yang tidak kondusif bagi kehidupan, apalagi melawan arus kehidupan. Saya berkeyakinan agama mesti membantu memudahkan kehidupan manusia, sebuah pedoman atau peta dalam menjalani hidup yang sangat kompleks, bukan sebagai tujuan, bukan sebagai objek sesembahan, sebagai pemujaan dan perayaan belaka. Segenap perjalanan hidup manusia bukanlah dalam rangka menuju pada agama, tetapi bersama agama manusia mengarungi kehidupan. Tapi bagaimana pun itu hanya merupakan sebuah alternatif, sebuah pilihan akan jalan keselamatan, bukan satu-satunya jalan. Alam dan kehidupan ini selalu terbentang luas untuk berbagai kemungkinan, termasuk
bagaimana cara agar manusia menjalani hidup yang terbaik sesuai jati
dirinya masing-masing.
Mengerucutkan jalan keselamatan hanya ada sebuah ajaran tertentu (agama apa pun) sama artinya mengecilkan rahmat Tuhan itu sendiri, seakan-akan Tuhan hanya untuk segelintir umat manusia dan zaman tertentu. Saya berkeyakinan Tuhan selalu terhubung dengan hati setiap manusia di setiap tempat dan sepanjang zaman, sepanjang kehidupan itu masih ada. Percikan, pancaran Tuhan selalu ada dalam diri setiap manusia. Jika tidak, berarti Tuhan hanya berada di luar jangkauan manusia. Tuhan menjadi objek diluar kesadaran. Dan itu sulit dibayangkan.

Sunday, July 24, 2011

Pernyataan Bersama: Pemerintah Kota Bogor Sengaja Menyulut Konflik Antar-Masyarakat

http://www.wahidinstitute.org/Dokumen/Detail/?id=174/hl=id/Pernyataan_Bersama_Pemerintah_Kota_Bogor_Sengaja_Menyulut_Konflik_Antar-Masyarakat
Jum'at, 15 Juli 2011 11:02

Konferensipers

Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bakal Pos Taman Yasmin Bogor tak henti-hentinya mengalami tekanan. Meskipun telah mengantongi putusan Mahkamah Agung, pihak GKI Yasmin tetap tidak dapat meneruskan pembangunan gerejanya. Tidak hanya itu, mereka bahkan tidak bisa memasuki tanahnya sendiri.
Pasalnya, Pemerintah Kota Bogor tidak mau membiarkan pihak GKI Yasmin mendirikan tempat ibadah atau beribadah di tanahnya sendiri. Meskipun sudah ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap memenangkan GKI Yasmin. Dengan cara menyegel tanah gereja dengan gembok secara ilegal serta menurunkan pasukan beserta kendaraan dinasnya, Pemerintah Kota Bogor yang dibantu oleh aparat Satpol PP dan Kepolisian Kota Bogor, menghadang Jemaat GKI Yasmin agar tidak dapat memasuki tanahnya sendiri. Akibatnya, setiap Minggu pihak GKI Yasmin terpaksa beribadah di trotoar yang berada di depan lokasi tanah gereja. Dalam suasana mencekam di bawah penjagaan ketat aparat.
Tidak hanya itu, sekelompok masyarakat intoleran yang tidak menyukai keberadaan gereja di wilayah Yasmin, kerap melakukan intimidasi dan pelecehan terhadap pihak GKI Yasmin yang terpaksa beribadah di trotoar. Pada mulanya, kelompok ini menggunakan sentimen agama untuk menolak keberadaan gereja di bawah bendera FORKAMI. Akan tetapi, akhir-akhir ini mereka merubah strategi. Dengan menggunakan sentimen ketertiban umum, dalam 2 minggu terakhir, tanggal 3 dan 10 Juli 2011, kelompok ini melakukan mobilisasi massa untuk mengintimidasi dan mengganggu pihak GKI Yasmin yang sedang melaksanakan ibadah secara terpaksa di trotoar.
Sembari menyanyikan lagu-lagu perjuangan, seperi Maju Tak Gentar, kelompok ini meneriakan kata-kata ke arah jemaat GKI agar menghentikan ibadah di trotoar, saat jemaat melangsungkan ibadah. Beberapa perwakilan kelompok tersebut berulangkali mendatangi dan mendesak pihak GKI Yasmin agar segera menghentikan ibadah. Alasan mereka, ibadah tersebut mengganggu masyarakat yang hendak menggunakan trotoar dimaksud untuk melintas, berdagang, maupun pangkalan ojek sepeda motor.
Namun demikian, pihak GKI Yasmin menolak desakan untuk menghentikan ibadah di trotoar sembari menjelaskan dengan seksama kepada kelompok tersebut yang disaksikan oleh aparat kepolisian Kota Bogor, bahwa bukan keinginan pihak GKI Yasmin beribadah di trotoar, ibadah itu dilakukan dengan terpaksa akibat sikap Pemerintah Kota Bogor yang tidak mau mematuhi putusan pengadilan dan tetap menyegel tanah dan bangunan gereja. Akan tetapi kelompok tersebut tidak mau menerima penjelasan pihak GKI Yasmin dan tetap mendesak agar ibadah dihentikan.
Dalam menyikapi situasi ini, kami menilai bahwa sesungguhnya Pemerintah Kota Bogor yang dipimpin oleh Sdr. Diani Budiarto tengah menyulut konflik antar masyarakat. Dengan tidak mau membiarkan pihak GKI Yasmin beribadah atau mendirikan tempat ibadah di tanah mereka sendiri. Lebih parah lagi, situasi ini mendemonstrasikan pembangkangan Pemerintah Kota Bogor terhadap putusan pengadilan dan Mahkamah Agung. Hal yang sebenarnya tidak boleh terjadi dalam suatu Negara Hukum seperti Indonesia.
Meskipun secara teori, kemerdekaan memanifestasikan agama, seperti ibadah, dapat dibatasi jika hal itu mengganggu ketertiban umum atau mengganggu hak orang lain, akan tetapi pembatasan ini tidak boleh diterapkan secara diskriminatif.
Dalam kasus GKI Yasmin, kegiatan ibadah di trotoar bukan kehendak mereka sendiri, akan tetapi buah kebijakan diskriminatif dari Pemerintah Kota Bogor. Sehingga, kebijakan tersebut bukan hanya melahirkan pelanggaran hak asasi jemaat GKI Yasmin akan tetapi juga pelanggaran terhadap hak masyarakat yang ingin menggunakan trotoar tersebut sebagai fasilitas umum.
Oleh karena itu, kami menuntut agar Pemerintah Kota Bogor segera mematuhi putusan pengadilan dengan membuka segel tanah dan bangunan gereja. Izinkan GKI Yasmin beribadah dan melanjutkan pendirian tempat ibadah di tanahnya sendiri.
Kami menuntut agar Pemerintah Kota Bogor menghentikan upaya-upaya, dengan alasan yang dicari-cari, untuk menyulut konflik antar masyarakat. Karena hal ini jelas-jelas melanggar hukum dan bukan sikap seorang negarawan.
Kami menuntut, agar Pemerintah Pusat, khususnya Presiden, segera turun tangan menyelesaikan persoalan ini dan tidak membiarkan situasi ini terus memburuk sehingga berujung pada konflik terbuka antar masyarakat yang memiliki risiko sosial yang sangat tinggi.

Jakarta, 14 Juli 2011
Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bakal Pos Taman Yasmin, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Forum Komunikas Aktivis '98, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI)
The Wahid Institute, Human Rights Working Group (HRWG), Indonesia Legal Resource Centre (ILRC)
Aliansi Nasional Bhineka Tunggal ika (ANBTI), Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP)
Setara Institute, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
Aliansi Masyarakat Lintas Iman, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta


Friday, July 1, 2011

Awas Kyai Palsu Bentukan Amerika

http://umarabduh.blog.com/2011/07/01/awas-kyai-palsu-bentukan-amerika/


Pengantar:
Pagi ini, pada harian REPUBLIKA edisi Jum’at 01 Juli 2011, khususnya di rubrik Suarapublika ada sebuah surat pembaca yang ditulis oleh Hari Tanjung (Tanjung Barat, Jakarta Selatan). Intinya, penulis surat pembaca memohon penjelasan Kyai Haji Imam Ghazali tentang pernyataannya di hadapan pejabat Australia.
Sebagaimana diberitakan media massa, pada 3 Juni 2011, Diplomat dari Kementerian Luar Negeri Australia Greg Ralph mengunjungi Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya, Jawa Timur pimpinan Kyai Haji Imam Ghazali Said. Pada kesempatan itu, Kyai Haji Imam Ghazali Said mengatakan bahwa pondok pesantren yang berafiliasi kepada pesantren Ngruki atau berafiliasi kepada Wahabi di Arab Saudi telah mencetak kader yang radikal. Sedangkan ponpes An-Nur yang dipimpinannya, tidak seperti itu.

Kyai Haji Imam Ghazali Said selain menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PC NU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, juga anggota jaringan The Wahid Institute. Ia pendukung Ahmadiyah. Lelaki kelahiran Sampang (Madura), pada 12 Februari 1960 ini pernah mengatakan: “…Ahmadiyah itu kawan saya, ikhwanuna fiddiin…” (Wahid Institute Networks, Senin, 26 Mei 2008 11:19)

Hari Tanjung dari Tanjung Barat juga mempertanyakan sikap Kyai Haji Imam Ghazali Said: “… apakah pantas seornag Muslim menuduh saudaranya di hadapan non-Muslim dengan tuduhan seperti itu, meski dalam rangka membela ponpes yang diipimpinnya?”

Surat pembaca tersebut telah mengingatkan kami akan sebuah tulisan berjudul AWAS KYAI PALSU BENTUKAN AMERIKA sebagaimana pernah dipublikasikan Tabloid SAPUJAGAT Nomor 17 Tahun IV, 10-25 Januari 2004, hal. 5. Selengkapnya kami turunkan di blog ini.

Untuk melengkapi tulisan tersebut, sekaligus untuk memperkaya wawasan pembaca tentang sosok KYAI, kami turunkan tulisan berkenaan dengan kyai, seperti KYAI KOK BERGELIMANG KEMUSYRIKAN, juga tulisan berjudul MACAM-MACAM KYAI. Semoga bermanfaat.(umarabduh and friends)

“Konstelasi politik dunia pasca ‘perang dingin’ ternyata suasananya tidak dingin, justru semakin memanas dan memprihatinkan,” ungkap Dr. Hidayat Nur Wahid saat tampil sebagai pembicara dalam seminarAncaman Neo Kolonialisme Terhadap NKRI di Hotel Kartika Candra Jakarta (5/1). Konvensi-konvensi internasional, regulasi dan penegakan hukum yang diperankan PBB tidak bergigi dan dimandulkan. Kekuasaan adidaya tunggal Amerika Serikat pun muncul dan bergerak tanpa tersentuh hukum (above the law).

Peristiwa 11 Setember 2001 seakan menjadi justifikasi bagi Amerika untuk mengukuhkan diri sebagai ‘polisi dunia’. Negara-negara berdaulat, tambah Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, dilanggar kedaulatannya secara semena-mena. Afghanistan dihancurkan, Iraq diacak-acak dan dijajah, Syuriah dan Iran pun diancam. Bahkan menurut sumber penting petinggi Amerika, ekspedisi militer ala Amerika ini akan berlangsung lama dan mencakup 60 negara dengan slogan “war against terrorism” (perang terhadap terorisme). “Dunia pun kini dibagi-bagi dalam dua kubu, with them (terroris, Red) or with us (Amerika, Red). Siapa yang menjamin Indonesia tidak akan masuk sasaran bidik,” tegas Hidayat Nur Wahid.

Masih menurut Hidayat Nur Wahid, kebijakan politik iuar negeri (LN) Amerika yang dinilai banyak kalangan amat ekstrem ini tak lepas dari para perancang politik di sekitar Presiden George W. Bush. Para perancang kebijakan yang lazim disebut neo conservative (neo-cons)terlibat aktif dalam formulasi politik LN Amerika dan bekerja keras untuk menceburkan Amerika dalam one world government (satu pemerintahan dunia).
Dick Cheney
“Wapres Dick Cheney yang merupakan pentolan neo-cons pun sukses mengimplementasikan cetak biru yang telah dirancang sejak Juni 1997 dengan Projects for New American Century (PNAC),” kata Hidayat Nur Wahid. Pada September 2000 PNAC berhasil menelurkan rujukan politik LN Amerika, yang dikenal dengan Rebuilding America’s Defenses (RAD). Strategi pertahanan ini kental dengan doktrin pre-emptive war (serangan mendahului/serang dulu urusan belakangan, Red) dan upaya pengembangan senjata nuklir baru.

Guna menjamin kesuksesan RAD, Amerika dalam rancangan pertahanan baru itu diminta untuk mengembangkan nuklir generasi baru, memulai program pertahanan missile dan keluar dari Anti Ballistic Missile Treaty. Amerika juga menambah anggaran belanja militer, serta menempatkan pasukan secara besar-besaran di 140 negara dengan 40 negara sebagai basis permanen.

“Hebatnya visi membangun imperium baru Amerika ini bukan hanya di atas kertas, namun betul-betul diwujudkan setelah mendapat momentum yang tepat pasca 11 September,” kata Nur Wahid. Sebagai bukti realisasi visi tersebut, Senate Amerika menyetujui permintaan Presiden Bush untuk mencabut larangan riset, pengembangan dan produksi senjata nuklir (5 kiloton), padahal 10 tahun belakangan semua itu dilarang. 

Menurut analis anggaran pertahanan Bill Donahue, lanjut Hidayat Nur Wahid, Amerika pada tahun 2003 telah menghabiskan dana 5,8 milyar dollar untuk laboratorium nuklir. Bahkan, Los Alamos National Laboratories telah diperintahkan memulai pengembangan senjata nuklir mini jauh sebelum meminta izin kepada Kongres.

Fakta-fakta tersebut, menurut Capres favorit versi SMS ini, menunjukkan Amerika secara serius tengah mempraktekkan neo kolonialisme secara sistematis. Ambisi membentuk imperium baru ini ditunjang pula dengan globalisasi yang merupakan jurus lain dalam melakukan kolonialisme. Ini secara jelas dinyatakan oleh mantan Menlu Amerika Henry Kissinger yang mengatakan globalisasi adalah nama lain dari dominasi Amerika Serikat. Demikian pula diungkap Thomas Friedman dalam bukunya The Lexus and the Olive Tree mengatakan globalisasi telah mengarah pada proses penyebaran Amerikanisasi. Pula dikatakan oleh Joseph Stiglitz, pemenang Nobel bidang ekonomi 2001. Ia mengemukakan bahwa Amerika memang berniat menguasai dunia dengan menjadikan IMF, Bank Dunia dan WTO sebagai kuda tunggangan.

“Indonesia telah masuk era ini. Akibatnya muncul ketergantungan terhadap hutang luar negeri, dominannya budaya hedonistik, materialistik dan permisif yang sama sekali bertentangan dengan moral dan etos orang Timur. Kedaulatan ekonomi dan moral bangsa pun tergadaikan akibat dampak buruk globalisasi,” tegas Dr. Hidayat Nur Wahid.

Ulama Palsu
Dari fakta-fakta yang dibeberkan, ada kenyataan menarik yang diungkapkan Dr. Hidayat Nur Wahid. Ia mewanti-wanti agar mewaspadai ulama-ulama atau kyai-kyai palsu bentukan Amerika. Memang dalam rangka meredam aksi-aksi dan sentimen negatif Amerika di Indonesia, negeri Paman Sam ini banyak menguras koceknya untuk membeli ulama, menciptakan ulama palsu. Hal ini terungkap dari buku The CIA at Waryang menguak program membeli ulama dan pemimpin Islam dalam menghadapi sentimen-sentimen anti Amerika di dunia Islam dan Arab. Dalam wawancara pengarang buku tersebut dengan George Tenet(Direktur CIA), ditegaskan bahwa Amerika menemukan ruang untuk melawan gelombang anti Amerika dengan cara menyuap para ulama atau kyai, menciptakan kyai palsu dan merekrut tokoh-tokoh agama Islam sebagai agen.
George Tenet
Amerika juga melakukan politik stick and carrot terhadap pesantren-pesantren. Pada 18-28 September 2002 lalu, Institute for Training and Development (ITD) sebuah lembaga Amerika mengundang 13 pesantren ‘pilihan’ (Dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi) untuk berkunjung ke Amerika. Masing-masing juga mendapat bantuan USD 2000.

Amerika dan Australia juga membantu USD 250 juta dengan dalih mengembangkan pendidikan Indonesia. Padahal menurut sumber diplomat Australia yang dikutip The Australian (4/10/2003), sumbangan tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir ‘madrasah-madrasah’ yang menghasilkan terorisme dan ulama yang membenci Barat.

“Memang ada sebagian pemimpin pesantren yang menganggap bahwa semua bantuan tersebut layak diterima asal kita tidak terpengaruh dengan kepentingan-kepentingan Amerika. Tapi yang saya lihat di kita masih ada budaya ewuh pakewuh dan sungkan. Jadi sulit bila kita menerima bantuan tanpa memberi imbalan balik sesuai kepentingan pemberi,” tandas Nur Wahid.

Maka pada 2003 lalu, 1000 ulama dan kyai berkumpul di Jakarta untuk menolak program bantuan tersebut, apalagi yang mensyaratkan perubahan kurikulum pesantren. “Semua sepakat untuk mewaspadai ulama atau kyai-kyai yang merupakan boneka-boneka Amerika untuk melemahkan tradisi pendidikan Islam dan nilai-nilai moral bangsa,” kata Hidayat Nur Wahid.
Alex Manuputty
Apalagi, secara jelas Amerika telah ikut campur tangan dalam berbagai persoalan dalam negeri Indonesia. Sebagai contoh, desakan kepada TNI untuk menghentikan operasi militer dalam menumpas Gerakan Aceh Merdeka yang separatis. Begitu pula dalam kasus Organisasi Papua Meredeka. AS tampak getol mendesak Indonesia untuk menggelar referendum untuk rakyat Papua seperti modus di Timor Timur. Yang terakhir adalah kasus kaburnya Alex Manuputy (terpidana 4 tahun penjara karena terbukti makar) ke Amerika. Kejanggalan dalam proses kaburnya pentolan Republik Maluku Selatan (RMS) ini, menguatkan indikasi adanya keterlibatan pihak Amerika.

“Menghadapi semua ini, integritas nasional merupakan harga final yang tak dapat ditawar. Harus dipertahankan berapa pun harga yang harus dibayar,” tegas Hidayat Nur Wahid. Ia pun menyerukan agar umat Islam menyatukan barisan, memperkokoh ketahanan nasional dan menyusun strategi jitu sebelum semuanya terlambat. • (arh)

Sumber:
Tabloid SAPUJAGAT Nomor 17 Tahun IV, 10-25 Januari 2004, hal. 5