Sunday, July 26, 2020

HASUTAN ITU KIAN MENCEKAM.


https://www.facebook.com/Mediahijau/posts/3185520544819476

Image may contain: 5 people, crowd and outdoor

Membaca beberapa artikel yg makin berani menguak siapa PKI sebenarnya, jelas bahwa rencana luar bisa itu berhasil menggusur Soekarno, presiden yg dianggap kolot dan bengal oleh Amerika, disaat yg sama mereka mendapatkan the good boy utk melancarkan rencana besarnya menguasai SDA Indonesia bersama, ya mereka mengangkat Soeharto, sang *pemain* yg nafsunya melebihi iblis utk bisa brutal dan sadis.
Lepas dari penjajah dgn perjuangan yg melelahkan, Indonesia lgsg dikenal dunia karena si jenius Soekarno bgt flamboyan membawa Indonesia dimata dunia, sayang dia tak mau diatur Amerika, maka dia menjadi korban konspirasi antara Amerika dan pengkhianat bangsa, prajurit bekas Knil dijadikan cindil nya Amerika, dan kelak dia memamah bangsanya sampai ke tulang sumsumnya, dia tak segan membunuh bhkn kawannya yg bgt banyak dikorbankannya demi nafsu bejadnya.
Kita lewatkan bahasan ttg kebiadaban dibalik cerita PKI, karena ribuan dokumen telah ada utk membuka fakta bahwa kejadian itu ada, dan diadakan atas pesanan.
Sekarang kita tarik benang merahnya antara pasca kejatuhan Soeharto sampai Indonesia skrg dan reaksi keluarganya serta para teman yg terbiasa menikmati hasil jarahan. Kebiasaan itu tidak serta merta bisa dilupakan begitu saja, kemudahan menjarah dan memerah kekayaan negara begitu menggiurkan dan menggairahkan, shg keterhentian itu akan mereka lawan dgn jalan apa saja utk bisa kembali berkuasa.
22 thn sejak kejatuhan orba mereka sudah mencoba bbrp kali bangkit namun masih terengah, Habibie mereka habisi dgn menolak laporan pertanggung jawabannya, Gusdur mereka gusur dgn memakzulkannya, Mega dibiarkan sementara, dan SBY membuat mereka lega karena sama DNA nya, lihat apa yg dibuatnya, Freeport tetap nyokot, Pertamina tetap dipiara jd penderma, BUMN dijadikan sapi piaraan bersama dan CENDANA merasa aman krn bisnisnya berjalan tak ada gangguan, termasuk Petral yg tetap kenyal.
Sampai satu hari Tuhan mengirimkan Jokowi agar negeri ini bisa di perbaiki, dan kemudian terjadilah kegaduhan yg terus direncanakan, seolah Indonesia hanya akan bisa baik ditangan para pencabik. Jokowi membangun pondasi baru utk Indonesia dgn sekuat tenaga bersamaan dgn kuatnya gangguan dari para mucikari Cendana serta politisi berhidung babi.
Atas dasar tidak mau kehilangan dari apa yg sudah pernah mereka dapatkan, Cendana dan kroninya akan terus berusaha mengambil kembali kekuasaan atau minimal sebuah kekuatan utk mengatur pemerintahan. Cendana punya dana dan masih berpengaruh utk membuat keruh, mudah buat mereka merekrut siapa saja termasuk Arab kawe yg mengaku keturunan nabi, kelakuan gali. Sayang banyak orang terkesima dan menjadi pengikutnya karena orang Arab dianggap semua beradab walau sejatinya biadab.
Apa yg terjadi sekarang, selama Jokowi memimpin negeri ini, mereka tak henti menakut-nakuti rakyat, bahkan tak segan membuat kekalutan dan ancaman. Isu PKI terus dihembuskan nyaris 10 thn ini, kenapa PKI bangkitnya kelamaan setelah 22 tahun mati, kenapa tidak ada sebelum ini, pastilah tidak karena mereka terjaga eksistensinya, kecuali Jokowi yg membuat mereka prustrasi.
Kembali kepada Arab kawe, mereka ini Arab urusan usus dua belas jari, fulus yg dicari, mereka tak peduli ini negeri mau jadi santapan gali asal mereka bisa makan tiap hari semua diatur, tapi kaum idiot terkesima mereka lagi maki-makipun dikira baca doa karena agamanya pakai bahasa Arab semua, padahal Iqra' saja mereka tak tau artinya, makanya bertakbir sambil memaki, mereka pikir Tuhan bisu tuli, sampai mereka lupa sang Maha itu selalu hadir dalam kebaikan bukan pada suara makian.
Membaca tulisan Indra Ganie, dan peringatan mantan KABIN Hendropriyono bahwa keturunan Arab di Indonesia jangan jadi provokator, kita harus sadar dgn nalar yg benar, bhw apa yg terucap diatas adalah fakta, kita telah diprovokasi oleh mereka yg dimanfaatkan Cendana, dan kepentingan lainnya, tapi semua sumber dananya sama.Kita nyaris selalu berbenturan antar umat dan membuat negara ini rentan karenanya.
Tulisan Indra Ganie mengingatkan kita, secara tidak sadar kita telah dijajah oleh imperialisme Asia Barat ( Arab ) melalui selimut agama. Begitu hebatnya kita menghormati mereka, seolah semua Arab keturunan nabi, lagian kalau keturunan nabi mang kenapa, karena keturunan tidak bisa menutup kebejatan. Mereka telah menyesatkan pikiran kita begitu lama, semua yg berbau barat dikatakan produk kafir, kita hanya disuguhi kurma dan kencing unta.
Awal 70an santer isu kristenisasi, itu salah satu cara mereka menjauhkan kita dari peradaban barat, kenapa, karena disana pesat ilmu berkembang sementara Arab hanya jualan lambang pedang. Sekarang malah kebalik mereka mengekspor gamis dan jenggot kemari, mereka sendiri beli jas dan dasi pergi rekreasi ke Itali. Kita dihasut jangan dekat ke China, negara asalnya malah hutang ama China, sementara kita disini tiap hari menyanjung Arab cilaka. Ada yg salah dengan kita, iya kita salah kurang bisa baca tulisannya, apalagi artinya, makanya kalau sudah pakai bahasa antum, ente, serasa sudah menjadi penghuni surga.
Bak kata Didi Kempot, naneme pari jebule seng tukul rumput teki. Berharap keturunan Arab membawa agama utk kedamain dan toleransi, yang diajarkan malah amarah dan caci-maki, terus kita masih yakin mereka keturunan nabi, sayang otak kita sudah dikebiri, perlahan tapi pasti negeri ini digerogoti, diancam oleh kerusuhan dan berujung kehancuran.
INGAT BILA DIBIARKAN FEODALIS ARAB BERKEDOK AGAMA INI AKAN MENGHANCURKAN NEGERI INI, MEREKA ADALAH PASUKAN BAYARAN ORBA BERJUBAH AGAMA, KITA HARUS LAWAN MEREKA KALAU TAK INGIN ADA CATATAN SEJARAH DITANAH INI "BEKAS INDONESIA", CENDANA ADALAH MUSUH BERSAMA TERMASUK SIAPA SAJA YG TERLIBAT DIDALAMNYA. KITA LAWAN MEREKA, KARENA YG PKI BENERAN ITU MEREKA !!!

Sumber :
Berantas Radikalisme Indonesia

Friday, July 24, 2020

MENGAYAK RADIKAL

https://threadreaderapp.com/thread/1286597834360229888.html




Para culas berwajah tamak, yang jumlahnya tak banyak namun berkantong tebal mulai tersingkir.

Sementara, mereka yang jumlahnya lebih banyak, kaum nekat tak berotak dengan wajah bengis, sorot mata selalu marah dan penuh kebencian, mulai ling lung.


Image

Seperti pasir diayak, mereka kini terpisah. Ada jelas perbedaan mana batu dan pasir.

Kapan pasir akan diaduk dengan semen lalu dijadikan tembok, kapan batu kasar akan dimasukkan dalam campuran beton, terserah pemilik proyek.

Yang jelas, jumlah pasir pasti jauh lebih banyak dibanding batu-batu kasar.

Yang jelas, batu-batu kasar itu kemarin bersembunyi seolah menyatu dengan pasir.

Mereka nyaman selama masih dalam satu ikatan.


Image

Namun ...,yang pasti, tak ada orang mengayak pasir hanya untuk disimpan. Tak lama lagi akan diolah menjadi tembok dan beton. Hanya tunggu waktu.

Saat mereka terpisah, tak ada lagi siapa berlindung dibalik siapa.

Demikian juga para perusuh negara.

Terlalu lama mereka nyaman dalam ikatan saling melindungi, saling mendapat keuntungan dalam kamuflase.

Para petinggi, mulai dari distributor, kasir, bendahara hingga boss yang punya uang telah dipisah dan ditempatkan pada titik tertentu.

Mereka inilah batu-batu itu.

Image

Sementara, para kroco yang jumlahnya banyak, juga sudah dipisahkan dengan sesamanya dengan klasifikasi ukuran.

HALUS dan KASAR.

Mereka sengaja sudah dipencarkan tanpa dapat koordinasi satu dengan yang lain.


Ketika para bohir tak mampu berkoordinasi lagi dengan dengan bendahara, kasir dan mereka yang mampu mendistribusikan amplopnya, bencana keruntuhan adalah kemana mereka akan tuju.

Demo sopir angkutan bagi distribusi BBM di Pertamina Balongan tak dapat berlangsung lama.


Image

Hanya tiga hingga empat hari saja mereka sudah menyatakan takluk. Mereka berlutut mohon ampun tanpa rasa malu.

"Kenapa?"

Mereka terpuruk jauh sebelum keinginan mereka sempat mereka teriakkan.

Mereka "tidak" sanggup bertahan, karena tak ada koordinasi lagi.


Mereka menyerang secara serampangan tanpa strategi yang jelas. Mereka tak lagi memiliki bohir yang mampu memberi nutrisi selama mereka berjuang.

Siapa para bohir di Pertamina, itu sudah diayak dan sudah dipisahkan. Siapa-siapa mereka ...,negara sudah memberi kode dan label.


Image

Mereka, para pendemo, berusaha mengacaukan negara dengan serangan sporadis tak bermakna tanpa peran bohir yang tak tahu bagaimana masuk pada kelompok itu.

Semuanya terkunci dalam strategi yang tak pernah mereka bayangkan.


Demo dengan keinginan menjatuhkan kredibilitas negara yang sedang sibuk dengan bencana adalah tindakan pengecut dan memalukan.

Seolah tak mau tahu bahwa bencana ini hanya akan dapat berhenti bila semua pihak terlibat, mereka justru memilih berdiri di seberang.


Image

Mereka menyerang dengan kelebihan yang mereka miliki. Mereka berhenti memasok BBM agar rakyat MAKIN marah.

Dengan sigap, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa memerintahkan Kapusbekangad Mayjen TNI Isdarmawan Ganemoeljo untuk melakukan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).













https://www.jpnn.com/news/karyawan-pertamina-mogok-kerja-angkut-bahan-bakar-jenderal-andika-langsung-perintahkan-ini

Dalam OMSP ini, pasukan Batalyon Bekang 3/Rat dikerahkan untuk mengemudikan truk tangki bahan bakar di Balongan, Indramayu, menggantikan para karyawan yang mogok.

Seorang Kepala Staf TNI Angkatan Darat langsung terjun, bohir mana berani menembus barikade semacam itu?


Sungguh, mereka tidak pernah menyangka akan dipukul dengan sangat mudah. Sungguh, mereka benar-benar terjebak dalam kebodohan mereka sendiri.

Mereka adalah bagian dari orang-orang bodoh yang tak pernah mau belajar.

"Kapan mereka ditindak?"


Image

Bukankah Menpan-RB, Meneg BUMN hingga Mendagri belakangan ini terlihat sibuk memilah siapa ASN yang terindikasi radikal?

Bukankah Menko Polhukam juga sudah mengirim data kepada Meneg BUMN siapa-siapa yang sudah terindikasi radikal di lingkungannya?


Tak mungkin kita mengayak pasir demi untuk menyimpannya, demikian pula ketika negara sudah memilah dan mendata lalu meletakkan dalam kotak yang berbeda mereka-mereka yang dianggap radikal.

Harusnya, tidak lama lagi. Tinggal menunggu waktu yang tepat.

"Kapan"

Hehehe ...


Image

Friday, July 17, 2020

Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia

http://www.muslimedianews.com/2018/09/radikalisme-antara-suriah-dan-indonesia.html
Monday, September 03, 2018

Kolom : M. Najih Arromadoni



Jakarta - Krisis politik dan kemanusiaan yang bermula sejak 2011 telah meluluhlantakkan banyak negara Timur Tengah, seperti Libya, Tunisia, Yaman, dan Suriah. Gerakan propaganda kelompok radikal yang mengatasnamakan revolusi (thaurah) ini sudah berkepanjangan dan gagal memenuhi janji-janji manisnya, berupa keadilan dan kesejahteraan.

Gerakan yang dimotori kelompok-kelompok pro-kekerasan ini memang awalnya memikat, karena dibungkus dan disembunyikan di balik kedok-kedok retorik. Media Barat sampai menyebut gerakan mereka sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring/al-Rabi' al-'Arabi), digambarkan sebagai proses demokratisasi, berlawanan dengan kenyataan yang kemudian tampak, yaitu islamisasi versi khilafah atau khilafatisasi. Berdirilah kemudian khilafah di Suriah, Irak, dan Libya. Ikhwanul Muslimin saat itu memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia.

Demi kepentingan sesaat dan ketika sudah terdesak, mereka memang gemar menggunakan slogan-slogan demokrasi, semisal mereka akan mengerek tinggi-tinggi panji kebebasan ketika perbuatan melanggar hukum mereka ditindak, karena yang sedang dilakukan oleh mereka sejatinya adalah membajak demokrasi. Sejak awal mereka meyakini bahwa demokrasi adalah produk kafir, maka kapan saja ada waktu mereka akan menggerusnya.

Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain. Jejaring mereka semakin aktif di Asia, Eropa, Afrika, Amerika sampai Australia, berusaha memperluas kekacauan ke berbagai wilayah, dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi.

Wacana syrianisasi kemudian sampai ke Indonesia, semakin ramai disuarakan pada tahun-tahun belakangan, paling tidak mulai 2016. Banyak pihak mensinyalir ada gerakan-gerakan yang berusaha menjadikan Indonesia jatuh ke dalam krisis sebagaimana menimpa Suriah.

Fakta-fakta kemudian bermunculan; banyak pola krisis Suriah yang disalin oleh kelompok radikal, menjadi sebuah gerakan-gerakan di Indonesia. Jaringan-jaringan kelompok radikal di Indonesia juga semakin terang terkoneksi dengan aktor-aktor krisis Suriah. Sebagai contoh Indonesian Humanitarian Relief (IHR), lembaga kemanusiaan yang dipimpin seorang ustaz berinisial BN, yang logistiknya digunakan untuk mendukung Jaysh al-Islam, salah satu kelompok teroris di Suriah. 

Pola men-Suriah-kan Indonesia setidaknya tampak dalam beberapa pergerakan berikut; pertama, politisasi agama. Indikasi menguatnya penggunaan kedok agama demi kepentingan kekuasaan, sebagaimana pernah dilakukan di Suriah, terlihat dalam banyak hal, di antaranya adalah penggunaan masjid sebagai markas keberangkatan demonstran. Jika di Damaskus masjid besarnya Jami' Umawi, maka di Jakarta Masjid Istiqlal. 

Adakah yang pernah menghitung, berapa kali Masjid Istiqlal diduduki pelaku berangkat demonstrasi? Pelaksanaannya pun kebanyakan di hari Jumat seusai waktu Salat Jumat, didahului dengan hujatan politik di mimbar kotbah, sehingga mengelabui pandangan masyarakat terhadap agama yang sakral dan politik yang profan. Persis dengan apa yang pernah terjadi di Suriah menjelang krisis. Masjid pun berubah menjadi tempat yang tidak nyaman, gerah, dan tidak lagi menjadi tempat 'berteduh'. 

Hari Jumat, yang semestinya menjadi hari ibadah mulia, berubah menjadi hari-hari politik dan kecemasan, atas kekhawatiran terjadinya chaos. Muncul kemudian istilah "Jumat Kemarahan" sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jumat --bukankah itu hanya terjemahan dari "Jumat al-Ghadab" yang pernah menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan oleh Yusuf al-Qardhawi, tokoh Ikhwanul Muslimin?

Kedua, menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah. Dilakukan dengan terus-menerus menebar fitnah murahan terhadap pemerintah. Sesekali presiden Suriah Basyar al-Assad dituduh Syiah, sesekali dituduh kafir, dan pembantai Sunni. Kelompok makar bahkan menghembuskan isu bahwa al-Assad mengaku Tuhan, disebarkanlah foto bergambar poster al-Assad dengan beberapa orang sujud di atasnya.

Dalam konteks Indonesia, Anda bisa mengingat-ingat sendiri, presiden Indonesia pernah difitnah apa saja, mulai dari Kristen, Cina, Komunis, anti-Islam, mengkriminalisasi ulama, dan sederet fitnah lainnya. Tidak usah heran dengan fitnah-fitnah tersebut, yang muncul dari kelompok yang merasa paling 'Islam', karena bagi mereka barangkali fitnah adalah bagian dari jihad yang misinya mulia, dan ciri universal pengikut Khawarij adalah mengkafirkan pemerintah.

Ketiga, pembunuhan karakter ulama. Dalam proses menghadapi krisis, ulama yang benar-benar ulama tidak lepas dari panah fitnah, bahkan yang sekaliber Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi, yang pengajiannya bertebaran di berbagai saluran televisi Timur Tengah, kitabnya mengisi rak-rak perpustakaan kampus-kampus dunia Islam, dan fatwa-fatwanya menjadi rujukan. Begitu berseberangan pandangan politik dengan mereka, seketika dituduh sebagai penjilat istana dan Syiah (padahal beliau adalah pejuang Aswaja yang getol), hingga berujung pada syahidnya beliau bersama sekitar 45 muridnya di masjid al-Iman Damaskus, saat pengajian tafsir. Beliau dibom karena pandangan politik kebangsaannya yang tidak sama dengan kelompok pembom bunuh diri.

Jika demikian yang terjadi di Suriah, kira-kira Anda paham kan dengan apa yang terjadi di Indonesia, kenapa Buya Syafi'i Ma'arif dianggap liberal, KH. Mustofa Bisri juga dianggap liberal, Prof Quraish Syihab dituduh Syiah, Prof Said Aqil Siraj juga dituduh Syiah, bahkan KH. Ma'ruf Amin atau TGB Zainul Majdi yang pernah dijunjung-junjung oleh mereka, kini harus menanggung hujaman-hujaman fitnah dari kelompok yang sama, ketika propaganda politiknya tidak dituruti? Setelah ulama yang hakiki, mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup, mereka bunuh karakternya, maka mereka memunculkan ustaz-ustazah dadakan yang punya kapasitas entertainer yang hanya mampu berakting layaknya ulama.

Keempat, meruntuhkan sistem dan pelaksana sistem negara. Misi utama kelompok radikal adalah meruntuhkan sistem yang ada, dan menggantinya dengan sistem yang ideal menurut mereka, yaitu khilafah atau negara yang secara formalitas syariah, meski substansinya tidak menyentuh syariah sama sekali. Khilafah bagi mereka layaknya 'lampu ajaib' yang bisa memberi apa saja dan menyelesaikan masalah apa saja. Tidak sadar bahwa berbagai kelompok saling membunuh dan berperang di Timur Tengah karena sedang berebut mendirikan khilafah, dan ujungnya adalah kebinasaan.

Saat kelompok makar di Suriah berusaha meruntuhkan sistem dan pelaksana negara, mereka mengkampanyekan slogan al-sha'b yurid isqat al-nizam (rakyat menghendaki rezim turun) dan irhal ya Basyar (turunlah Presiden Basyar). Slogan dengan fungsi yang sama di-copy paste oleh jaringan mereka di Indonesia, jadilah gerakan dan tagar '2019 Ganti Presiden'!

Syrianisasi sedang digulirkan di negara kita. Pola-pola yang sama ketika kelompok radikal menghancurkan Suriah sedang disalin untuk menghancurkan negara kita. Bedanya Suriah sudah merasakan penyesalan dan ingin rekonsiliasi, merambah jalan panjang membangun kembali negara mereka. Sedangkan, kita baru saja memulai. Jika kita tidak berusaha keras menghadang upaya mereka, maka arah jalan Indonesia menjadi Suriah kedua hanya persoalan waktu. Semoga itu tidak pernah terjadi

M. Najih Arromadoni alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus dan Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami)

Intervensi Geopolitik Turki di Libya dan Arah Dunia Islam

https://www.msn.com/id-id/berita/dunia/intervensi-geopolitik-turki-di-libya-dan-arah-dunia-islam/ar-BB16zBXk
Nashih Nashrullah
10/07/2020

Intervensi Turki di Libya mengubah arah politik dunia dan negara Islam. Ilustrasi Turki.
© AP Intervensi Turki di Libya mengubah arah politik dunia dan negara Islam. Ilustrasi Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, Kunjungan Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar dan Kepala Staf Umum YaÅŸar Güler ke Libya dinilai penting untuk menunjukkan tekad Turki dalam kebijakan Mediterania. 

Kunjungan kedua setelah keberhasilan militer yang didukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Turki, itu bukti bahwa kehadiran Turki di Libya sama sekali bukan kebetulan. Sebab seperti diketahui, ada kunjungan tingkat atas sebelumnya ke Libya.  

Pandangan tersebut disampaikan Selcuk Turkyilmaz, kolumnis yang menulis untuk media Turki, Yeni Safak. Lebih lanjut, Selcuk menyampaikan kunjungan tingkat tinggi setelah pandemi ini telah memperkuat kehadiran Turki di Libya.

Perbedaan antara mereka yang berpartisipasi dalam kunjungan pertama dan mereka yang bergabung dalam kunjungan kedua juga penting. Dalam kunjungan pertama, kehadiran negara Turki diwakili di tingkat tertinggi, sedangkan kunjungan kedua dilakukan oleh menteri pertahanan nasional dan kepala Staf Umum.  

Selcuk menjelaskan, jika kehadiran politik di Libya didukung dengan kehadiran militer yang representasional, itu tidak akan memiliki banyak arti. Turki memiliki cukup pengalaman untuk mengetahui apa yang mungkin terjadi dalam situasi seperti itu.

Karena itu, kehadiran militernya yang diwakili di tingkat tertinggi diidentifikasi sebagai masalah kelangsungan hidup bagi Turki. Ini menunjukkan betapa pentingnya kehadiran Turki di Libya.

Meski beberapa kelompok terganggu kehadiran Turki, tidak ada kerugian dalam menggunakan konsep keabadian dalam hal Libya. Satu abad kemudian, wilayah kami mulai runtuh dengan cara yang akan membahayakan keberadaan Turki di Anatolia. Intervensi destabilisasi dilakukan pada disintegrasi dunia bipolar yang ditujukan untuk seluruh wilayah Turki.

Intervensi yang dilakukan pada awal 1990-an, papar Selcuk, memunculkan masalah permanen di perbatasan dekat dan jauh kami. Selama periode ini, pemerintahan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Mesir khususnya bertindak dalam kerja sama dengan kekuatan imperialis seperti Eropa dan AS, yang melakukan intervensi dari luar negeri. Dengan demikian, mereka memainkan peran aktif dalam disintegrasi kawasan tersebut.

"Tujuannya adalah untuk bertindak bersama untuk menangkap negara-negara dari dalam. Proses ini sedang berlangsung secara aktif. Perjuangan Turki adalah untuk menghentikan disintegrasi meski semua intervensi di wilayah Turki membuahkan hasil tertentu," terang Selcuk.

Pertarungan saat ini antara negara-negara imperialis, menurut Selcuk, perlu dianalisis dengan baik. Identifikasi pertarungan ini sebagai perang baru untuk mengukir wilayah tersebut menunjukkan bahwa prosesnya tidak memiliki analisis yang baik. 

photo
© Disediakan oleh Republika.co.id photo

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) bertemu dengan Perdana Menteri Libya Fayez al-Sarraj (kiri) di Komplek Kepresidenan Ankara, Turki 4 Juni 2020. (TUR PRESIDENCY/MURAT CETINMUHURDAR - Anadolu Agency) - (Anadolu Agency)


Pada saat intervensi di Aljazair pada awal 1990-an atau ketika Libya dibom oleh pesawat pada 2010-an, tidak ada reaksi terhadap Prancis. Ini benar-benar mengatakan bahwa para politisi, yang menunjuk pada penghapusan makam Shah Suleiman sebagai kemenangan besar, telah mampu berjalan berdampingan di Paris dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 
Namun, orang-orang Afrika Utara yang tinggal di pinggiran Prancis adalah elemen-elemen yang membawa masalah masa kolonial hingga saat ini. Tentunya pembunuhan orang-orang tertentu di Paris adalah masalah penting. Namun, selama periode yang sama, orang-orang tak berdosa terus-menerus dibunuh di titik-titik perlawanan di wilayah Islam, yang juga termasuk Turki. 
Karena Prancis tidak pernah dituduh melakukan pembunuhan yang dilakukan di Aljazair atau Libya, Prancis mengira itu bisa dilakukan sesuka hati di Suriah dan Afrika Utara. Mirip dengan penghapusan makam Shah Suleiman, ia berpikir tidak ada kekuatan yang bisa melawannya.
Karena itu, wajar bagi Prancis untuk tidak tahu apa-apa ketika Turki menyelamatkan Libya dari ambang kehancuran dalam beberapa bulan. Ini adalah pertama kalinya Turki melakukan intervensi geopolitik yang dapat berdampak pada seluruh wilayah.
Menunjukkan kehadiran politik dan militernya dengan cara yang tidak dapat dibatalkan, maka menunjukkan bahwa Turki mengidentifikasi Libya sebagai masalah kelangsungan hidupnya. Namun, Turki perlu melihat bahwa definisi ini tidak terbatas pada Libya saja dan mencakup semua Mediterania Timur.
Suriah dan Idlib menjadi bagian dari kebijakan Libya Turki juga. Ketidakmampuan negara-negara seperti Prancis untuk menghasilkan solusi setiap kali Turki menunjukkan sikap tegas perlu didekati dari berbagai perspektif. Mereka telah mengambil tindakan pada 1990-an untuk terakhir kalinya dengan keyakinan bahwa tidak ada kekuatan yang berani mencoba menghentikan mereka.
Pada 2010-an, Prancis secara serentak melakukan intervensi di Mesir, Turki, Aljazair, Tunisia, Suriah, dan Yaman, tetapi terlepas dari semua keadaan yang merugikan, wilayah Turki selamat. Ini adalah tanda perlawanan regional yang sangat kuat.
"Kita perlu melihat bahwa perlawanan ini muncul dengan menghilangkan struktur dependen. Dengan demikian, bisa dikatakan ada perubahan struktural.
Kekhawatiran struktur dependen dengan aktivasi dinamika kawasan tidak dapat dijelaskan dengan perspektif terbatas pada batas-batas lokal. Mungkin meminta terlalu banyak untuk mengharapkan mereka yang telah memberikan ambisi pribadi mereka untuk melihat perubahan struktural ini.
Sumber:  https://m.yenisafak.com/en/columns/selcukturkyilmaz/structural-changes-in-the-muslim-world-and-turkeys-geopolitical-intervention-in-libya-2047513

Arab Spring Di Suriah: Berhasil Atau Gagal?

https://geotimes.co.id/opini/arab-spring-di-suriah-berhasil-atau-gagal/
MUHAMMAD HUMAMVIDI HUNAFA
Kamis, 16 Agustus 2018

Arab Spring bermula di negara Tunisia. Kejadian pembakaran diri seorang pedagang kaki lima, Mohamed Bouzazi, pada  17 Desember 2010 menjadi percik awal dari jatuhnya rezim Ben Ali.



Perang yang terjadi di Suriah merupakan bagian dari serangkaian kejadian yang terjadi di beberapa negara di Jazirah Arab dan Maghrib yang dikenal sebagai Arab Spring atau Arab Winter. Arab spring berhasil menumbangkan beberapa diktator di negara negara arab seperti di Mesir, Libya, dan di Tunisia. Di sisi lain, di beberapa negara tersebut, terjadi perang yang tidak berkesudahan dan krisis humaniter yang sangat memprihatinkan.

Suriah merupakan salah satu negara yang mengalami dua hal tersebut. Negara yang dulunya merupakan salah satu negara yang paling berkembang di tanah arab, dan paling stabil namun juga telah berada di dalam genggaman satu keluarga yang sifat nepotismenya telah bercabang di setiap lapisan pemerintahannya dan sikap penindasan terhadap lawan politiknya yang sangat jauh dari landasan peri kemanusiaan berubah menjadi salah satu negara yang paling tidak stabil, penuh kerusakan, ladang dari ekstremisme, namun memiliki sepercik harapan akan terbentuknya sebuah negara yang demokratis.

Arab Spring bermula di negara Tunisia. Kejadian pembakaran diri seorang pedagang kaki lima, Mohamed Bouzazi, pada  17 Desember 2010 menjadi percik awal dari jatuhnya rezim Ben Ali. Kejatuhan Ben Ali disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah kekuasaannya yang autokratik, meningkatnya pengangguran, korupsi, dan sikap represif terhadap kebebasan berpendapat.

Perlu kita pahami bahwa pada akhirnnya Ben Ali mundur dari kursi kepemimpinan pada tanggal  14 Januari 2011, dan setelah itu Tunisia mengalami proses demokratisasi yang cenderung stabil. Berbeda dengan Tunisia, negara negara lainnya mengalami sebuah perubahan yang berbeda.

Revolusi Suriah merupakan bagian dari sebuah rangkaian ini. Revolusi Suriah adalah sebuah revolusi yang terjadi dikarenakan faktor internal, dan faktor eksternal. Faktor internalnya adalah masalah mengenai konstitusi suriah, masalah kepemimpinan yang diktatorial, dan pelanggaran HAM.

Faktor eksternalnya adalah faktor gelombang arab spring yang terjadi di hampir seluruh negara arab. Kedua faktor itu sebenarnya memiliki keterkaitan, yaitu mengenai demokrasi. Negara negara arab, tidak terkecuali Suriah, banyak yang di pimpin oleh seorang diktator, dan mereka telah lama memegang kekuasaan.

Para diktator ini cenderung represif terhadap kebebasan pendapat, dan kebebasan berpolitik. Masyarakat negara negara tersebut, dengan bantuan dari terciptanya media sosial dan internet, mulai merasa jenuh dengan apa yang terjadi di negara mereka. Melihat kebebasan berpendapat yang ada di negara negara Eropa, Amerika, dan Asia, mereka menginginkan adanya perubahan.

Di Suriah, Arab Spring berujung menjadi sebuah Power Struggle. Memang bukan hanya Suriah yang menjadi ladang dari Power Struggle, namun pemberitaan dan intervensi secara langsung antara Koalisi Amerika Serikat, Russia, Iran, dan Turki merupakan bukti bahwa power struggle di negara ini sangatlah massif dan kompleks.

Penjatuhan rezim yang tidak sepenuhnya berhasil menyebabkan negara tersebut mengalami sebuah konflik berkepanjangan yang berdarah dan menyebabkan negara tersebut mengalami salah satu krisis humanitarian terbesar di dunia. Dari sini dapat dilihat bahwa tujuan Arab Spring mulai di pertanyakan di Suriah. Demokratisasi atau pergantian rezim yang akan sama saja bahkan lebih parah?

Dapat dilihat bahwa Arab Spring di Suriah tidak bisa dikatakan berhasil, namun di satu sisi juga tidak bisa dikatakan gagal. Arab Spring di Suriah dapat dikatakan gagal karena Arab Spring di Suriah berdarah dan tidak dilaksanakan dengan cepat. Suriah tidak mampu mencontoh penjatuhan rezim di Tunisia yang cenderung damai, bahkan seburuk buruknya tidak dapat mencontoh Mesir dan Libya yang penjatuhan rezimnya cukup cepat.

Yaman dan Suriah memiliki kesamaan yaitu mereka sangat berdarah dan ada intervensi langsung dari pihak luar, namun Yaman tidak sekompleks Suriah, karena yang bertempur di Yaman hanya dapat di golongkan menjadi dua pihak yaitu Pemberontak, dan Pemerintah. ISIS di Yaman sudah hampir tidak ada.

Suriah di lain pihak sangatlah kompleks. Pemberontak dapat terklarifikasi menjadi berbagai macam jenis ideologi. Ekstremis seperti ISIS yang independen dan Hayat Tahrir Al Sham yang di dukung oleh Al Qaeda, kelompok kelompok moderat (Free Syrian Army) yang di selatan (di dukung AS) dan di utara (di dukung Turki),  Partai Rakyat Kurdistan, serta Pemerintah Bashar Al Assad saling bertempur satu dengan yang lainnya.

Hari ini musuh, keesokan harinya menjadi teman. Suriah tidaklah hitam dan putih. Suriah itu abu abu. Sifat abu abu dari suriah adalah alasan mengapa Arab Spring tidak bisa dikatakan berhasil di suriah, karena menjadi tidak jelas arahnya.

Arab Spring di Suriah juga dapat dikatakan berhasil karena Arab Spring membuat terjadinya kemungkinan perubahan status quo di Suriah. Pemerintahan Bashar Al Assad dengan catatan kejahatan perangnya dapat di tuntut di pengadilan internasional, baik dia kalah atau menang di dalam perang ini.

Perundingan Sochi dengan format Astana memungkinkan pemberontak untuk mengubah konstitusi di Suriah, memberikan kesempatan bagi jatuhnya Assad. Masih ada sepercik harapan untuk demokratisasi di Suriah bilamana seluruh pihak asing telah lelah dengan pembiyaan perang, dan bilamana pihak asing memiliki hati nurani terhadap krisis kemanusiaan yang ada di Suriah.

Satu hal yang dapat dikatakan pasti mengenai apa yang akan terjadi di Suriah, Pemberontak dan pihak pihak yang menjadi lawan daripada Assad tidak akan dengan mudah membuat Assad menjadi seperti dulu lagi.

Darah yang di tumpahkan oleh para pemberontak akan ditagih oleh mereka dengan tujuan mereka masing masing. Suriah tidak akan menjadi dulu lagi. Suriah pasca perang pasti akan berubah, walaupun tidak begitu banyak tapi itu  akan menjadi sebuah perubahan yang sangat signifikan. Bilamana perubahan tersebut telah sesuai dengan tujuan Arab Spring (Demokratisasi), disitulah Arab Spring versi Suriah dapat dikatakan berhasil.

Arab Spring Dan Enam Tahun Revolusi Suriah

https://geotimes.co.id/kolom/internasional/arab-spring-dan-enam-tahun-revolusi-suriah/
IQBAL KHOLIDI
Minggu, 26 Maret 2017


Sejumlah pengunjuk rasa wanita yang tergabung dalam kelompok Gema 212 membentangkan poster di Gedung Kedutaan besar Iran, Jakarta Selatan, Senin (19/12). Dalam aksinya para peserta aksi meminta kepada pemerintahan Rusia dan Iran untuk menghentikan penyerangan terhadap warga sipil di Aleppo, Suriah. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/ama/16


Para pendukung setia Presiden Bashar al-Assad [Foto: gettyimages]

Maret ini, 6 tahun lalu, konflik berdarah di Suriah meletus. Pihak oposisi menyebut peristiwa itu sebagai revolusi menjatuhkan tiran. Sebaliknya Pemerintah Suriah menganggap itu sebagai pembangkangan dan pengkhianatan.

Saat itu tak ada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), tak ada Al-Qaidah, tak ada Iran, Rusia atau Hizbullah. Krisis politik secara cepat berubah menjadi konflik bersenjata dan menjalar ke seantero Suriah.

Enam tahun silam Suriah bukanlah satu-satunya negeri Timur Tengah yang diamuk konflik. Protes massa juga merebak di negara-negara Arab pada musim semi, peristiwa yang dikenal dengan Arab Spring.

Bermula di Tunisia, negara pertama yang dilanda Arab Spring. Dari Tunisia, Arab Spring menular ke berbagai negara Timur Tengah, seperti Mesir, Libya, Yaman, Bahrain, dan Suriah.

Jika tolok ukurnya menjatuhkan rezim, kalau kita bandingkan dengan revolusi Mesir, Tunisia atau Libya, Revolusi Suriah dapat dibilang lamban. Pasalnya, Revolusi Mesir mampu menggulingkan rezim Husni Mubarak hanya dalam waktu 18 hari; Revolusi Yasmin di Tunisia berhasil melengserkan Presiden Ben Ali dalam waktu 1 bulan; dan Revolusi Libya berhasil menjungkalkan Muammar Khadafi, meski dengan cara tragis, dibunuh).

Lantas mengapa Bashar al-Assad masih mampu bertahan?

Salah satu faktor utamanya adalah keterlibatan Rusia dan Iran yang secara diplomatik dan militeristik membela rezim Bashar al-Assad hingga detik ini. Lalu, pertanyaan berikutnya, kenapa Rusia dan Iran mendukung rezim Suriah?

Rusia memiliki kepentingan geostrategis di kawasan. Suriah kini merupakan benteng terakhir Rusia, setelah Libya tumbang. Di Suriah, Rusia memiliki pangkalan angkatan laut di Tartus, bahkan sejak masa Uni Soviet, dan semakin membesar dalam tahun-tahun belakangan ini.

Rusia juga punya pangkalan udara di Hmeimim, Latakia. Jadi, dalam tingkatan geostrategis, seandainya kehilangan Suriah, maka Rusia tidak punya keberadaan dan pengaruh diplomatis di Mediterania.

Sementara itu, Iran pasang badan tak lain karena rezim Suriah merupakan sekutu lama bahkan sejak perang Iran versus Irak meletus (Perang Teluk I 1980-1988), sebuah peperangan yang membawa kehancuran besar bagi kedua bangsa. Di saat negara-negara Arab seperti Yordania, Oman, Arab Saudi memihak Saddam Hussein, Presiden Suriah Hafeez al-Assad (Ayah Bashar) menutup pipa minyak Irak dari Suriah ke Mediterania demi mendukung Iran, sehingga mengakibatkan Irak menderita kerugian besar.

Sejarah juga mencatat, Suriah merupakan negara pertama yang mengakui kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang dibesut Ayatullah Khomeini (Al-Arabiya, 2016). Teheran juga memiliki kepentingan dalam menjaga zona pengaruh dari Irak ke Suriah ke Libanon.

Teheran masuk secara militer di pihak rezim Suriah sedari awal, yang disusul milisi Hizbullah Lebanon secara diam-diam pada tahun 2012. Tahun 2013 Hassan Nasrallah, pimpinan Hizbullah, menyatakan mereka mengintervensi di Suriah untuk melindungi tempat-tempat suci Muslim Syiah melawan kaum takfiri.

Patut diperhatikan juga posisi Amerika Serikat. Awalnya Amerika tidak mengambil sikap tegas perihal krisis Suriah. Saat Revolusi Tunisia, Presiden Barrack Obama menyerukan Ben Ali untuk turun setelah dua minggu Revolusi. Bahkan dia mendesak Husni Mubarak turun tidak sampai satu minggu setelah pecah Revolusi Mesir. Namun, pernyataan pertama kali Obama untuk Bashar al-Assad baru muncul pada Agustus 2011, lima bulan setelah krisis Suriah pecah.

Itulah mengapa Bashar al-Assad tak akan mudah tersingkir sebagaimana rezim Libya, Yaman atau Mesir, dan sepertinya tak ada tanda-tanda bahwa perang Suriah akan berakhir. Bashar al-Assad pernah berbicara kepada Sunday Telegraph, Suriah adalah garis sesar, dan jika Anda bermain di atasnya, maka Anda bisa menyebabkan gempa bumi …  Apakah Anda ingin melihat Afghanistan lain, atau puluhan Afghanistan lain? Setiap problem di Suriah akan membakar seluruh kawasan.” (Michael Weiss, ISIS: The Inside Story).

Pertanyaannya, siapa yang memicu kebakaran? Namun, siapa pun itu, api telah membakar dan nyala apinya sudah menjalar ke mana-mana.