Saturday, September 22, 2012

Why this man could be good news for 200m Muslims – and everyone else too

http://en.avaaz.org/791/jokowi-jakarta-mayor-indonesia-dirty-politics-prabowo?utm_source=facebook&utm_medium=social_media&utm_content=_left&utm_campaign=indonesia?v=191337120921
by Avaaz Team - posted 21 September 2012 13:11

Governor-elect Joko Widodo gives his remarks in a press conference in Jakarta on 20 September


In the world's fourth most populous country, something is stirring. An up-and-coming "outsider" has been electedgovernor of Indonesia's capital, Jakarta.
It's too early to tell whether Joko Widodo, known as Jokowi, can deliver on his promises. But the fact that his message – of clean politics and religious tolerance – has chimed with so many voters tells us something important. Indonesia's citizens are not only fed up with corruption; they're fed up with the communal hatreds that their leaders have tried to fuel to divide them.
It turns out that in this giant city, as in many places across the world, there's more that brings people together than forces them apart.

Bursting at the seams

Indonesia, the world's most populous Muslim-majority nation, is a young and troubled democracy. Freed from Dutch colonial rule in 1949, the newly independent country experimented with democratic freedoms but moved quickly to authoritarianism under the successive regimes of Sukarno and Suharto. The latter resigned in 1998 following widespread rioting, protests and violence.
Suharto's exit was a vital step forward, but the transition to democracy has not been easy. The military still holds a troubling degree of power; religious and ethnic violence continues to be a problem in a country with over 300 ethnic groups; and corruption and a tired, inflexible bureaucracy is a major brake on Indonesia’s economy – a huge source of frustration for ordinary citizens.
Things in Jakarta are particularly fraught. With 26 million people in the metropolitan area and more than 10 million in the city itself, Jakarta is bursting at the seams. Its streets are gridlockedpublic transport is virtually nonexistent, floods regularly wreak havoc and access to clean water is scarce.

Jokowi – the capital's saviour?

Into the picture comes Jokowi, until recently a relatively unknown mayor and businessman from the Central Javan city of Surakarta. In this small city, Jokowi established a reputation as a clean, down-to-earth problem solver.
Campaigning on the slogan, "Beauty without corruption", Jokowi gradually built a national profile by successfully bringing divided Muslim and Christian communities together, improving conditions for the poor, and strengthening the business, cultural and natural environment of Surakarta.
Now he's determined to bring this well-crafted brand to Jakarta. After securing 43% in the first round of voting in July, he beat the incumbent, Fauzi Bowo, in a second run-off vote this week.

Unity in diversity

Michael Buehler, an expert on Indonesia at Northern Illinois University, says the result largely reflects frustration with Fauzi, who is supported by most of the political establishment. Fauzi has failed to address the city’s huge challenges since he was elected in 2007, and is seen as arrogant and out of touch.
But Jokowi's victory offers a fresh reason for hope. In a country with a long and brutal history of ethnic and religious conflict, he has gone against the grain. After fostering religious harmony in his home city, Jokowichose a Chinese Christian as his running mate for the Jakarta campaign.
His opponents have made dirty and desperate attempts to undermine his growing support by stoking tensions, chiefly directed against the Christian population. But despite surveys showing that the smear campaigns have hurt Jokowi at the edges, most Jakarta residents simply don't care.
This is an incredibly encouraging sign. It shows that enough people have seen through these cheap tricks and have little time for extremism. It underlines what people all over the world really want: clean government, a better standard of living and, quite simply, tolerance and respect between citizens.

A dangerous alliance?

It's not all good news. Jokowi faces huge challenges in delivering on his promises, not least thanks to the entrenched and corrupt bureaucracy he will inherit. More worryingly, he has the backing of a controversial figure: the former general, Prabowo Subianto, whose forces were accused of human rights abuses before the overthrow of Suharto in 1998. Prabowo is now a leading candidate for the 2014 presidential election, and Jokowi is being talked up as his potential running mate.
Many fear a Prabowo victory would signal a return to the bad old authoritarian days. Choosing Jokowi as his running mate would help Prabowo refresh his image as an outsider – despite his firm place within the establishment. While Jokowi would likely go into such a relationship with an agenda for change, there is a risk that he could be co-opted and sidelined. This could pose a great danger to Indonesian democracy.
Those concerns not withstanding, this week's news should still be celebrated. It shows something the Avaaz community has discovered time and again: that the vast majority of people across the world do not support extremism, that most people do not hate – and that whatever a handful of opportunist demagogues would have us think, the world most people want is is a place of peace, honesty and tolerance.
Learn more: Read this excellent briefing by the Global Mail for more on Jokowi's rise and his concerning ties to Prabowo, and learn how the media has spun a fiction about "Muslim Rage" that urgently needs correcting.
Sources: Jakarta Post, Avaaz, Demographia World Urban Areas, Jakarta Globe, Financial Times, Global Mail

Friday, September 21, 2012

Pembatasan agama di dunia meningkat

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/09/120921_religionpractise.shtml
21 September 2012 - 18:20 WIB

Masjid di Istambul


Penduduk di Indonesia, Burma dan Vietnam termasuk yang mengalami pembatasan paling besar terkait kebebasan beragama, menurut sebuah penelitian.
Pembatasan kebebasan beragama ini dilakukan baik oleh pemerintah ataupun masyarakat, seperti terungkap oleh survei Pew Forum, badan penelitian sosial yang berkantor di Washington.
Selain Indonesia dan dua negara tersebut, negara lain yang dikategorikan paling membatasi kebebasan beragama adalah Mesir, Rusia, Bangladesh, Nigeria, India, serta Pakistan.
Secara keseluruhan, Pew Forum mengatakan tiga perempat penduduk dunia tinggal di negara-negara yang membatasi kebebasan beragama.
Pembatasan dalam beragama yang diacu organisasi ini mengacu dari larangan menara masjid di Swiss sampai pada serangan sejumlah kelompok Islam terhadap gereja-gereja.
Pemeluk Kristiani dan Islam merupakan yang paling banyak mengalami tekanan, menurut Pew Forum.
"Pembatasan agama meningkat dan menyebar di dunia antara pertengahan tahun 2009 dan pertengahan 2010," menurut survei 86 halaman itu.

Tiga perempat penduduk dunia

"Karena sebagian dari negara yang melakukan pembatasan paling ketat memiliki penduduk paling padat, tiga perempat penduduk dunia yang berjumlah tujuh miliar tinggal di negara-negara dengan pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat yang memusuhi, naik 70% dibandingkan tahun sebelumnya," lapor survei Pew Forum.
Survei juga menunjukkan bahkan di negara-negara yang dianggap toleran seperti Amerika Serikat dan Swiss, tekanan terhadap penganut agama tertentu juga semakin besar.
Posisi Amerika Serikat naik dari rendah ke moderat dalam periode survei karena adanya sejumlah tahanan yang tidak diizinkan menjalankan ibadah, pembatasan izin tempat ibadah, dan meningkatnya serangan terkait agama.
Serangan terkait agama di Amerika ini termasuk tewasnya 13 orang di Fort Hood, Texas, tahun ini dan gagalnya upaya pemboman Times Square, New York tahun 2010.
Penelitian itu juga menyebutkan pemeluk Kristen mengalami tekanan di 111 negara di seluruh dunia pada tahun 2010, umat Islam di 90 negara, dan Yahudi di 68 negara.
Tekanan terhadap umat Hindu terjadi di 16 negara dan pemeluk Buddha di 15 negara.


Thursday, September 20, 2012

Anies Bawesdan: Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!!

https://membumikantoleransi.wordpress.com/2012/09/12/anies-bawesdan-ini-soal-tenun-kebangsaan-titik/
September 12, 2012 — Muhammad Hafiz
Oleh: Anies Bawesdan

Republik ini tidak dirancang untuk melindungi minoritas. Tidak juga untuk melindungi mayoritas. Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara, melindungi setiap anak bangsa!
Tak penting jumlahnya, tak penting siapanya. Setiap orang wajib dilindungi.
Janji pertama Republik ini adalah melindungi segenap bangsa Indonesia. Saat ada warga negara yang harus mengungsi di negeri sendiri, bukan karena dihantam bencana alam tapi karena diancam saudara sebangsa, maka Republik ini telah ingkar janji.
Akhir-akhir ini nyawa melayang, darah terbuang percuma ditebas oleh saudara sebahasa di negeri kelahirannya. Kekerasan terjadi dan berulang. Lalu berseliweran kata minoritas, mayoritas dimana-mana. Perlindungan minoritas dibahas amat luas.
Bangsa ini harus tegas: berhenti bicara minoritas dan mayoritas dalam urusan kekerasan. Kekerasan ini terjadi bukan soal mayoritas lawan minoritas. Ini soal sekelompok warga negara menyerang warga negara lain.
Kelompok demi kelompok warga negara secara kolektif menganiaya sesama anak bangsa. Mereka merobek tenun kebangsaan !
Tenun Kebangsaan itu dirobek dengan diiringi berbagai macam pekikan seakan boleh dan benar. Kesemuanya terjadi secara amat eksplisit, terbuka dan brutal.
Apa sikap negara dan bangsa ini? Diam? Membiarkan?
Tidak! Republik ini tidak pantas loyo-lunglai menghadapi warga negara yang pilih pakai pisau, pentungan, parang bahkan pistol untuk ekspresikan perasaan, keyakinan, dan pikirannya.
Mereka bukan sekadar melanggar hukum tapi merontokkan ikatan kebangsaan yang dibangun amat lama dan amat serius ini. Mereka bukan cuma kriminal, mereka perobek tenun kebangsaan.
Tenun Kebangsaan itu dirajut dengan amat berat dan penuh keberanian. Para pendiri republik sadar bahwa bangsa di Nusantara ini amat bhineka. Kebhinekaan bukan barang baru. Sejak negara ini belum lahir semua sudah paham. Kebhinekaan di Nusantara adalah fakta, bukan masalah !
Tenun kebangsaan ini dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Setiap benang membawa warna sendiri. Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan.
Perajutan tenun inipun belum selesai. Ada proses yang terus menerus. Ada dialog dan tawar-menawar antar unsur yang berjalan amat dinamis di tiap era. Setiap keseimbangan di suatu era bisa berubah pada masa berikutnya.
Dalam beberapa kekerasan belakangan ini, salah satu sumber masalah adalah kegagalan membedakan “warga negara” dan “penganut sebuah agama”.
Perbedaan aliran atau keyakinan tidak dimulai bulan lalu. Usia perbedaannya sudah ratusan -bahkan ribuan- tahun dan ada di seluruh dunia. Perbedaan ini masih berlangsung terus, dan belum ada tanda akan selesai minggu depan.
Jadi, di satu sisi, negara tidak perlu berpretensi akan menyelesaikan perbedaan alirannya. Di sisi lain, aliran atau keyakinan bisa saja berbeda tapi semua adalah warga negara republik yang sama. Konsekuensinya, seluruh tindakan mereka dibatasi oleh aturan dan hukum republik yang sama. Di sini negara bisa berperan.
Negara memang tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warganya. Tetapi negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Jadi dialog antar pemikiran, aliran atau keyakinan setajam apapun boleh, begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukumnya.
Negara jangan mencampuradukkan friksi/konflik antar penganut aliran/keyakinan dengan friksi/konflik antar warga senegara. Dalam menegakkan hukum, negara harus selalu melihat semua pihak semata-mata sebagai warga negara dan hanya berpihak pada aturan di republik ini.
Apalagi aparat keamanan, ia harus hadir untuk melindungi “warga-negara” bukan melindungi “pengikut” keyakinan/ajaran tertentu. Begitu pula jika ada kekerasan, maka aparat hadir untuk menangkap “warga-negara” pelaku kekerasan, bukan menangkap “pengikut” keyakinan yang melakukan kekerasan. Pencampuradukan ini salah satu sumber masalah yg harus diurai secara jernih dan dingin.
Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Disini pendidikan berperan penting. Tetapi itu semua tak cukup, dan takkan pernah cukup.
Menjaga tenun kebangsaan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. Ada saja manusia yang datang untuk merobek. Bangsa dan negara ini boleh pilih: menyerah atau “bertarung” menghadapi para perobek itu. 
Jangan bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis sejarah, bahwa bangsa ini gagah mempesona saat mendirikan negara bhineka tapi lunglai saat mempertahankan negara bhineka.
Membiarkan kekerasan adalah pesan paling eksplisit dari negara bahwa kekerasan itu boleh, wajar, dipahami, dan dilupakan. Ingat, kekerasan itu menular. Dan, pembiaran adalah resep paling mujarab agar kekerasan ditiru dan meluas.
Pembiaran juga berbahaya karena tiap robekan di tenun kebangsaan ini efeknya amat lama. Menyulam kembali tenun yang robek, hampir pasti tidak bisa memulihkannya. Tenun yg robek selalu ada bekas, selalu ada cacat.
Ada seribu satu pelanggaraan hukum di republik ini, tapi gejala merebaknya kekerasan dan perobekan tenun kebangsaan itu harus jadi prioritas utama untuk dibereskan. Untuk mensejahterakan bangsa semua orang boleh “turun-tangan”, tapi untuk menegakkan hukum hanya aparat yang boleh “turun-tangan”. Jadi saat penegak hukum dibekali senjata itu tujuannya bukan untuk tampil gagah saat upacara, tapi untuk dipakai saat melindungi warga negara, saat menegakkan hukum. Negara harus berani dan menang “bertarung” melawan para perobek itu.
Bahkan saat tenun kebangsaan terancam itulah negara harus membuktikan di Republik ini ada kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat tapi tidak ada kebebasan untuk melakukan kekerasan.
Aturan hukumnya ada, aparat penegaknya komplit. Jadi begitu ada warga negara yang pilih untuk  melanggar dan meremehkan aturan hukum untuk merobek tenun kebangsaan, maka sikap negara hanya ada satu: ganjar mereka dengan hukuman yang amat menjerakan. Bukan cuma tokoh-tokohnya saja yang dihukum. Setiap gelintir orang yang terlibat harus dihukum tanpa pandang agama, etnis, atau partai. Itu sebagai pesan pada semua: jangan pernah coba-coba merobek tenun kebangsaan!
Ketegasan dalam menjerakan perobek tenun kebangsaan membuat setiap orang sadar bahwa memilih kekerasan adalah sama dengan memilih untuk diganjar dengan hukuman yang menjerakan. Ada kepastian konsekuensi.
Ingat, Republik ini didirikan oleh para pemberani: berani dirikan Negara yang bhineka. Kita bangga dengan mereka. Kini pengurus negara diuji. Punyakah keberanian untuk menjaga dan merawat kebhinekaan itu secara tanpa syarat? Biarkan kita semua -dan kelak anak cucu kita- bangga bahwa Republik ini tetap dirawat oleh para pemberani.
Tulisan dimuat di Harian Kompas, 11 September 2012 Halaman 6 dalam Rubrik Opini

Tak Toleran Itu Melawan Tuhan

http://us.fokus.news.viva.co.id/news/read/345160--memperjuangkan-negara--mengamalkan-islam?fb_action_ids=3535446149807&fb_action_types=og.recommends&fb_source=aggregation&fb_aggregation_id=246965925417366

Melindungi non-Muslim adalah jihad. Musuh adalah mereka yang lalim.

Ismoko Widjaya, Mohammad Adam

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj

VIVAnews - Ada yang istimewa dalam perayaan Idul Fitri 1433 H kali ini. Hari raya itu hanya berselang dua hari dengan perayaan hari ulang tahun Kemerdekaan RI. Pada 67 tahun silam, kala proklamasi kemerdekaan RI dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta, juga terjadi pada suasana Ramadan.

Tentu bukan sebuah kebetulan jika pada perayaan Idul Fitri kali ini mengajak kita memikirkan kembali kehidupan bersama dalam satu bingkai negara Republik Indonesia. Terlebih begitu banyak peristiwa gesekan antar umat beragama, atau meningkatnya intoleransi belakangan ini.
Semua seperti menggugat Indonesia sebagai rumah bersama bagi semua suku dan agama yang diakui konstitusi. Untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan dan tugas umat beragama, khususnya Islam, dalam kehidupan berbangsa,VIVAnews mewawancarai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj, pada Rabu 15 Agustus 2012 lalu di Kantor PBNU, Jakarta Pusat. Berikut petikannya:

Apa pesan Hari Kemerdekaan yang bertepatan Ramadan. Persis saat proklamasi 17 Agustus 1945?Kita bangsa Indonesia juga harus bersyukur karena dulu kita merdeka di bulan puasa hari Jumat. Apa maknanya? Sangat besar maknanya. Kita umat Islam terutama harus betul-betul menjadi taat beribadah sekaligus warga bangsa yang baik. Ketika kita mengamalkan Islam dalam rangka memperkuat negara dan bangsa itu sama dengan ketika kita memperjuangkan negara dalam rangka mengamalkan Islam. Jadi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ketika kita membangun kehidupan di dunia itu juga dalam rangka ibadah, kita ibadah pun juga dalam rangka membangun dunia.

Kemerdekaan manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan seperti apa?Manusia itu subjek dan objek. Sebagai subjek dia adalah khalifatullah, wakil Allah, atau mandataris-Nya. Dimana dia diberikan kebebasan seluas-luasnya membangun dunia ini. Allah menyerahkan bumi ini kepada manusia dan masing-masing punya status yang berbeda-beda. Maka manusia diharuskan melakukan upaya terus menerus sesuai dengan proporsi dan kesempatannya membangun dunia ini.

Tapi sebagai mahluk Tuhan, setiap manusia itu sama. Mulai dari presiden sampai tukang sayur. Sebagai mahluk, objek harus beribadah kepada Tuhan. Memang ada perbedaan di dunia ini, ada yang lebih rendah ada yang lebih tinggi. Tapi manusia dilahirkan sebagai mahluk yang merdeka. Tidak boleh ada perbudakan. Manusia dilarang memperbudak satu sama lain.

Apakah ajaran Islam mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusia?Awal dakwah itu adalah la ilaha ilallah, kita harus menolak selain daripada Allah. Artinya, ketaatan kepada selain Allah itu adalah nisbi dan sangat relatif. Ketaatan yang mutlak dan tanpa ditawar adalah hanya kepada Allah. Kepada sesama manusia kita merdeka. Kepada Allah kita tidak merdeka. Ketika kita berhubungan satu sama lain ada batasan dan aturannya. Hubungan kita dengan Tuhan ya semaunya Tuhan, wong Dia yang menciptakan kita kok. Tuhan perintahkan kita salat lima kali, haji, dan lain-lain itu memang kemauan-Nya. Tapi kalau kita sesama mahluk misalnya saya atasan dan anda bawahan. Jika saya perintah anda maka yang mengatur itu adalah sistem, bukan saya selaku pribadi.

Lantas kenapa ada gejala umat Islam semakin tidak toleran dengan yang lain di sekitarnya?Ya mereka itu menyalahi Islam. Ajaran Islam ini luar biasa, mereka saja yang tidak mengerti. Pemahamannya yang salah atau belum paham. Alquran itu luar biasa. Tidak mungkin di dunia ini hanya satu agama. Seandainya Allah menghendaki semua jadi orang beriman atau mukmin, semua jadi satu agama. Tapi apakah boleh menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain beriman? Tidak. Kalau Allah mau dunia ini satu umat, satu bangsa, satu suku, tapi Tuhan kan tidak menghendaki itu.

Jadi dengan keadaan itu ada, bila masih ada orang yang tidak mau toleran berarti melawan kehendak Tuhan. Kalau kita benci dengan orang nonmuslim misalnya, itu melawan Tuhan. Kata nabi, tidak boleh ada permusuhan kecuali terhadap zalimin atau orang yang melanggar hukum.

Peristiwa yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar, bagaimana?Jelas salah.

Muslim yang terpengaruh isu Rohingya lalu melampiaskannya pada kelompok lain, bagaimana?Semua itu salah. Kita orang Islam bakar gereja, salah. Orang Kristen bakar masjid, salah. Orang Islam membunuh orang kristen, salah. Orang Kristen bunuh orang Islam, salah. Jangan lihat agamanya. Lihat kriminalnya. Pokoknya kita tak boleh menganggap orang lain adalah musuh kecuali kepada yang zalim, yang melanggar hukum, pelaku kejahatan, pelaku kriminal. Pembunuh misalnya itu jelas pelaku kriminal, harus dijadikan musuh bersama baik muslim maupun nonmuslim. Koruptor, itu menjadi musuh bersama dan seterusnya.

Indonesia merupakan negara muslim terbesar, apakah perlu merawat keberagaman?Memberi perlindungan terhadap warga masyarakat yang baik-baik tanpa melihat dia muslim atau nonmuslim, itu termasuk jihad. Melindungi orang Kristen yang baik, itu jihad. Kristen minoritas, kita lindungi hidupnya di Indonesia, itu jihad. Memberi perlindungan itu jihad, asal orang itu orang baik-baik. Jadi kita umat Islam wajib melindungi nonmuslim, asal orang itu maksum atau baik atau bukan pelanggar hukum.

Bagaimana caranya?Ya dengan melayani atau mencukupi apa yang dibutuhkan. Kalau kita lebih kaya dan mereka miskin, makan mereka bagaimana itu harus dipikirkan, juga tempat tinggal, pakaian, serta kesehatan. Makanya Shalahuddin Al-Ayyubi melindungi orang Kristen arab, karena kristen arab memang tidak mengajak musuhan. Tapi Kristen romawi yang mengajak perang ya itu yang diperangi.

Jika khazanah peradaban Islam digali, apa yang ideal agar kehidupan lebih ramah ke depan?Agama ini kalau tanpa diintegralkan atau disatukan dengan budaya, bisa bubar. Bisa langgengnya agama itu karena menyatu dengan budaya. Agama sebagai sesuatu yang sakral, datang dari Tuhan, turun dari langit, kepada manusia yang parsial, lemah, terbatas, terikat ruang dan waktu. Oleh karena itu agama harus sesuai dengan kondisi manusia, bukan kondisi Tuhan. Ya dong. Wong agama itu untuk manusia. Jadi agama ya harus sesuai dengan tantangannya manusia. Artinya, harus menyatu dengan budaya manusia.

Ada beberapa ibadah manusia yang menjadi kehendak Tuhan seperti salat, haji, lempar jumrah dan lain-lain. Tapi sisanya agama itu soal sosial atau kemasyarakatan, ada zakat, berhubungan baik dengan sesama manusia, tidak boleh sombong, tidak boleh dengki, dan lain-lain. Itu semua demi kehidupan manusia di dunia ini.

Apakah sekarang ini agama tidak menyatu dengan budaya?Ada beberapa kelompok Islam radikal di Indonesia itu mereka bukan lakukan Islamisasi, tapi Arabisasi. Ada lagi yang sangat rigid, sulit, memberatkan: tidak boleh lihat perempuan misalnya. Kita ini yang tidak bisa kita capai dengan sempurna ya apa adanya saja kita lakukan. Hidup ini biar mengalir saja, hayati saja, tetap giat bekerja.(np)