Sunday, February 7, 2016

Ahmadiyah, Kesesatan, dan Kezaliman

http://abdurakhman.com/ahmadiyah-kesesatan-dan-kezaliman/

image

Saya membaca buku tentang Ahmadiyah waktu masih kuliah, puluhan tahun yang lalu. Buku itu berasal dari skripsi seseorang di IAIN. Kemudian saya membaca beberapa artikel pendek, serta berdiskusi dengan beberapa orang penganutnya di berbagai mailing list.
Masalah inti Ahmadiyah terletak pada status pendiri atau imamnya, Mirza Ghulam Ahmad. Ia mengaku sebagai nabi. Sedangkan dalam ajaran Islam, tidak boleh ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad. Tapi mengapa orang-orang Ahmadiyah mempercayai kenabian Mirza?
Pangkal silang sengketanya ada pada penafsiran ayat pada surat Al-Ahzab 40. Di situ disebutkan Muhammad sebagai “khataman nabi”. Khatam biasa dimaknai sebagai penutup, atau terakhir. Berdasar ayat ini orang-orang Islam pada umumnya menganggap tidak ada lagi mani setelah Nani Muhammad.
Tapi bagi Jamaah Ahmadiyah tidak begitu. Kata “khataman” bagi mereka bermakna “segel”, semacam pemimpin bagi para nabi. Bagi mereka setelah Nabi Muhammad masih dimungkinkan adanya nabi-nabi, yang mereka sebut nabi kecil. Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang mabi kecil.
Di dalam Ahmadiyah sendiri soal ini pun ada perbedaan. Ada golongan yang menganggap Mirza itu seorang nabi yaitu kelompok Qadyan. Tapi ada pula yang memganggapnya hanya sebagai seorang pembaharu.
Lalu, sesatkah Ahmadiyah? Konon MUI pada zaman Buya Hamka pernah memfatwakannya sebagai aliran sesat. Namun bagi kalangan Ahmadiyah fatwa itu dianggap tidak final. Mereka masih meminta kesempatan dialog, tapi dialog itu tidak pernah terjadi.
Jadi, bagaimana? Sesat atau tidak? Bagi yang mengimani bahwa Muhammad adalah nabi terakhir, tentu ajaran Ahmadiyah itu sesat. Sebaliknya, bagi orang-orang Ahmadiyah, yang tidak beriman kepada nabi-nabi setelah Muhammad adalah orang sesat.
Itu adalah ajaran dasar semua agama. Tuhan yang benar itu hanya satu, yaitu Tuhan saya. Tuhan yang lain itu palsu. Agama yang benar hanya agama saya, yang lain sesat. Bahkan, mazhab yang benar hanyalah mazhab saya. Makanya zaman dulu sangat biasa terjadi saling tuduh sesat antara NU dan Muhammadiyah.
Bagi saya itu biasa saja. Yang tak biasa itu adalah kekerasan fisik. Gangguan fisik terhadap siapapun karena kepercayaannya tidak boleh terjadi.
Tapi apakah ini soal kesesatan? Menurut saya tidak. Ini soal penindasan oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang banyak terhadap yang sedikit.
Ada hal menarik soal LGBT yang tempo hari hangat dibahas. LGBT dirazia. Tapi itu hanya berlaku untuk kaum LGBT pinggiran. Di sisi lain layar kaca kita sebenarnya dipenuhi oleh artis-artis LGBT dan penggemarnya banyak. Dorce itu seorang transgender, tapi siapa yang berani mengusiknya?
Di Yogya dulu saya berkenalan dengan sekelompok orang Ahmadiyah, di antaranya guru besar di UGM. Ia cukup lama menjadi pembina bagi Jamaah Shalahuddin, sebelum wafat dalam tragedi MIna. PR III UGM waktu itu juga orang Ahmadiyah. Mereka punya lembaga pendidikan bernama Yayasan PIRI yang punya banyak sekolah. Waktu itu tak ada yang mengusiknya.
Bagi saya isu Ahmadiyah, Syiah, dan LGBT punya satu benang merah, yaitu soal sekelompok orang yang memang gemar menzalimi. Yaitu menzalimi orang-orang yang memang bisa mereka zalimi. Jadi bukan karena kesesatan, atau penyimpangan. Sama seperti razia kemaksiatan yang hanya bisa menyentuh tempat-tempat kelas bawah, sedangkan kelas atas tak tersentuh.
Jadi, ada sekelompok manusia yang sebenarnya lemah, mencoba menampilkan diri mereka sebagai sosok-sosok yang kuat, dengan menzalimi pihak-pihak yang lemah, itupun masih dengan meminjam nama Tuhan.