Tuesday, June 14, 2011

Survei: identitas ke-Islaman menonjol

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/06/110614_islamsurvey.shtml
14 Juni 2011 - 19:15 WIB



Hasil sebuah survei menunjukkan hampir separuh anak muda Muslim Indonesia yang tinggal di kota-kota besar cenderung mengedepankan identitas ke-Islaman ketimbang identitas kebangsaan.
Warga Muslim sedang sholat
Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menjelaskan survei ini menunjukkan hampir separuh pemuda Indonesia menganggap agama sebagai sebuah pegangan di tengah kondisi ekonomi dan politik Indonesia yang tidak menentu.
"Kalau kita tanya identitas apa yang dipegang oleh pemuda Muslim kita, itu 48% tepatnya 47,5% itu memandang pertama kali ya sebagai Muslim dan seterusnya," jelas Burhanuddin.
Pemikiran inilah, lanjut Burhanuddin, yang kemudian menjadikan pemuda Muslim Indonesia lebih mengedepankan identitas agamanya, dalam hal ini Islam, ketimbang identitas ke-Indonesiannya.
Survei juga menunjukkan pemuda Muslim Indonesia menolak konsumsi minuman keras, seks di luar nikah dan menikahi lelaki atau perempuan yang berbeda agama.
Mereka juga menyetujui hukuman potong tangan untuk pencuri dan hukuman cambuk bagi pemabuk. Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace Musdah Mulia menilai kondisi ini disebabkan karena pemerintah tidak serius merajut kembali rasa kebangsaan sejak rezim Orde Baru tumbang.
"Bagaimanapun juga kita sudah memilih Indonesia dengan ideologi Pancasila. Mestinya itu yang harus kita tegaskan dan kembali kita mestinya begitu reformasi ini memberbaiki kembali citra Pancasila yang hancur pada masa Orde Baru," tutunya.
Namun, kesimpulan survei yang dibuat oleh LSI dan beberapa lembaga penelitian dari Jerman ini juga menunjukkan sebagian pemuda Muslim Indonesia masih bisa bersikap liberal antara lain tidak menyetujui poligami dan tidak memaksakan penggunaan jilbab untuk perempuan.
Kondisi hampir sama juga ditemukan di Malaysia yang juga mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, kata utusan tetap Friederich Naumann Foundation for Liberty di Indonesia -salah satu pemrakarsa survei- Rainer Heufers menilai kondisi di Indonesia masih lebih baik ketimbang di Malaysia.
"Indonesia memiliki media massa yang sangat bebas yang memberitakan berbagai jenis konflik secara terbuka dan itu memberikan pengaruh," kata Heufers.
Survei ini dibuat tahun 2010 dengan responden anak muda berusia 15-25 tahun di Indonesia dan Malaysia. Tujuan survei ini adalah untuk menganalisa lima aspek kehidupan pemuda Muslim di kedua negara itu yaitu pengembangan pribadi, orientasi keluarga, agama, lingkungan sosial, gaya hidup dan orientasi politik.

Tuesday, June 7, 2011

Sekolah Tak Hormati Merah Putih Diberi Kesempatan Sampai Akhir Juni

http://www.detiknews.com/read/2011/06/07/144749/1654931/10/sekolah-tak-hormati-merah-putih-diberi-kesempatan-sampai-akhir-juni?9911022
Selasa, 07/06/2011 14:47 WIB
Muchus Budi R. - detikNews


Sekolah Tak Hormati Merah Putih Diberi Kesempatan Sampai Akhir JuniKaranganyar - Muspida Kabupaten Karanganyar menggelar pertemuan terkait dua sekolah yang menolak hormat kepada bendera merah putih. Dari hasil pertemuan itu, kedua sekolahan tersebut masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kebijakannya hingga akhir bulan ini.
Pertemuan tersebut digelar di Kantor Sekda Kabupaten Karanganyar, Selasa (7/6/20011). Pertemuan dihadiri Bupati Karanganyar Rina Iriani, Dandim Karanganyar Letkol (Inf) Edi Basuki, dan Kapolres Karanganyar AKBP Edy Suroso, Camat Tawangmangu, dan Camat Matesih.

Pihak terkait yang hadir adalah perwakilan dari MUI Karanganyar, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar, dan Penyuluh Agama Kemenag Kabupaten Karanganyar.

Usai pertemuan, Kepala Kementerian Agama Karanganyar, Juhdi Amin, mengatakan hasil dari pertemuan tersebut adalah memberi kesempatan kepada kedua sekolah untuk memperbaiki sikap dalam hal pandangannya dalam menghormati bendera.

"Batas waktu yang diberikan adalah hingga 30 Juni. Jika hingga batas waktu yang diberikan ternyata kedua sekolah itu tidak mematuhi aturan, maka akan diberi sanksi tegas terhadap mereka," ujar Juhdi.

Pernyataan lebih tegas disampaikan oleh Bupati Rina Iriani. Dia menegaskan hingga akhir Juni nanti kedua sekolah tersebut diharapkan mau menjalankan upacara bendera, hormat bendera, dan menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya'.

"Jika hingga 30 Juni kedua tetap bersikeras menolak hormat bendera, izin operasional sekolahnya akan kami cabut," tegas Rina.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua sekolah di Karanganyar menolak melakukan penghormatan bendera merah putih dengan alasan menyalahi akidah. Pengurus sekolah berkeyakinan, menghormat bendera adalah perbuatan syirik. Kedua sekolah itu adalah SMP Al-Irsyad di Kecamatan Tawangmangu dan SD Islam Sains dan Teknologi (SD-IST) Al-Albani di Kecamatan Matesih.


(mbr/fay)

Monday, June 6, 2011

Tarekat Sedunia Bakal Kumpul di Jakarta

http://nasional.inilah.com/read/detail/1578382/tarekat-sedunia-bakal-kumpul-di-jakarta

Oleh: Irvan Ali Fauzi
Nasional - Senin, 6 Juni 2011 | 17:19 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar pertemuan tarekat-tarekat sufi internasional. Hal tersebut diselenggarakan sebagai rangkaian peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama ke-85.
Menurut Ketua Umum PBNU Said Agil Siradj, sebanyak 43 tarekat dari dalam negeri dan 22 tarekat dari luar negeri siap memeriahkan acara yang bakal digelar di Gelora Bung Karno 17 Juli 2011 yang akan datang.

"Ini penting untuk memperkuat bahwa islam Indonesia adalah Islam yang mengedepankan akhlakul karimah, wisdom, kearifan menjauhi kekerasan bahkan anti kekerasan, bahkan kita hadapi kekerasan dengan atas nama Islam, itu justru menjadi kendala musuh Islam sendiri, yang mencoreng Islam sendiri," ujar Said Agil di kantor Presiden, Senin (6/6/2011).
Selain pertemuan tarekat tersebut, peringatan harlah NU juga akan dimeriahkan dengan seminar ekonomi rakyat dan pameran produk kreatif para nahdliyin selama tiga hari Pameran 14-17 Juli di Jakarta Convention Center. "Kami juga dengan bersama pihak lain bergerak di bidang ekonomi kreatif," katanya.

Untuk pengerahan massa, NU juga akan menggelar defile 30.000 orang anggota Banser Ansor. Selain itu, Said Agil juga mengatakan, seluruh ulama sepuh seluruh Jawa, Madura, dan Lampung akan menghadiri acara puncak peringatan harlah tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono juga berjanji akan menghadiri acara Harlah Nahdatul Ulama yang ke 85 di Istora Senayan Jakarta. "Presiden sambut baik, insya allah akan hadir. Berikan masukan pesan pada kami sangat berharga. Beliau sambut baik apa yang dilakukan PBNU," Katanya. [tjs]

Monday, May 30, 2011

Atasi Kemacetan di Surabaya, MTI Usul Hidupkan Trem

http://www.surya.co.id/2011/05/30/atasi-kemacetan-di-surabaya-mti-usul-hidupkan-trem
SENIN, 30 MEI 2011 | 19:37 WIB



SURABAYA | SURYA Online - Jalur trem (kereta yang dijalankan oleh tenaga listrik atau lokomotif kecil) di Jalan Diponegoro-Pasar Kembang, Kota Surabaya, yang sekarang akan dibangun jembatan layang (flyover) perlu dihidupkan kembali sebagai upaya untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut.
“Jalur trem di kawasan tersebut cukup layak untuk mengurangi kemacetan dibandingkan dengan pembangunan ‘flyover’,” kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Joko Setijo, di Surabaya, Senin (30/5/2011).
Menurut Joko, pemerintah pusat harus segera mewujudkan hal itu, karena sangat disayangkan kalau jalur trem dihapus, lalu di lokasi itu justru ditancapkan bangunan flyover.
“Jalur trem di Jalan Diponegoro tercatat mulai dari kawasan Karangpilang-Wonokromo-Jalan Diponegoro-Jalan Pasar Kembang-Stasiun Pasar Turi-Jalan Indrapura dan tembus ke kawasan Ujung di Tanjung Perak itu sangat bermanfaat dan mampu mengurang polusi udara jika jalur trem yang ada berupa trem listrik,” ujar Joko.
Bahkan, lanjut Joko, pembangunan jalur trem lebih murah dibandingkan dengan pembangunan flyover. Berdasarkan penghitungan MTI, pembangunan jalur trem hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 13 miliar per kilometer.
Bila jalur trem Ujung-Karangpilang sepanjang 21 km dihidupkan kembali hanya membutuhkan biaya Rp 273 miliar. Meski biaya ini belum termasuk halte, stasiun, dan depo, namun biaya itu dipandang lebih kecil dari pembangunan jalan layang Diponegoro-Pasar Kembang yang panjangnya sekitar 705 meter, tapi membutuhkan anggaran Rp 175 miliar per kilometer.
“Dari dua sisi itu saja, trem banyak untungnya daripada flyover, karena itu kami harapkan jalur trem di Diponegoro dihidupkan kembali seperti zaman Belanda sampai sekitar 1960-an,” kata Joko.
Terkait dengan ini, pihak MTI mendapat kabar dari konsul Indonesia di Jerman bahwa beberapa kota di negara itu akan menghibahkan tremnya ke Surabaya.
“Syarat utama untuk bisa mendapatkan hibah trem tersebut di antaranya Surabaya harus menjadi ’sister city’ dengan salah kota di Jerman, yakni kota Hamburg atau Bremen. Kalau sudah ada hubungan sister city dengan salah satu kota itu, Jerman akan menghibahkan tremnya ke Surabaya,” papar Joko Setijo.

Tuesday, May 24, 2011

Skenario Film Hanung Ternyata Ditulis Oleh Fritjof Schuon Tahun 1932

http://kedaiberita.com/Film/skenario-film-hanung-ternyata-ditulis-oleh-fritjof-schuon-tahun-1932.html
TUESDAY, 03 MAY 2011 11:29 EDDY PILIANG


kedaiberita.com - “Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan… Aku pindah agama bukan berarti aku mengkhianati Tuhan.”

Kata-kata itu betul-betul saya garis bawahi, satu bulan sebelum Film ? garapan hanung launching. Entah kebetulan atau tidak, kalimat dalalm cuplikan film ? tersebut ternyata persis dengan bunyi surat Fritjof Schuon kepada Albert Ossey, tahun 1932. Coba anda bandingkan:

“Have I ever said that the path to God passes through Mecca? If there were any essential difference between a path that passes through Benaris and one that passes through Mecca, how could you think that I would wish to come to God “through Mecca,” and thereby betray Christ and the Vedanta? In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome. Is the Nirvana of Mecca different from the Nirvana of Benares?”

Yang artinya kira-kira begini: Apakah aku pernah bilang bahwa jalan menuju Tuhan hanya bisa dilalui lewat Mekkah? Jika disana ada perbedaan mendasar antara jalan yang melewati Benaris (India) dan satu yang melalui Mekkah, bagaimana mungkin Anda berpikir bahwa aku ingin datang kepada Tuhan "melalui Mekah," dan dengan cara demikian mengkhianati Kristus dan Vedanta? Mengapa jalan spiritual tertinggi melewati Mekah atau Benares atau Lhasa atau Jerussalem atau Roma? Apakah nirvana dari Mekah berbeda dengan nirvana dari Benares?


fritjof
Bentuk-bentuk pertanyaan menyentil itulah yang dipakai Schuon untuk menyadarkan orang-orang agar tidak mengklaim bahwa agamanya adalah paling benar. Fritjof Schuon adalah seorang kelahiran Swiss yang mencoba memetakan jalan berbeda untuk menuju satu Tuhan tanpa harus mengkhianati Tuhan itu sendiri.

Pergulatannya mencari spiritualitas mengantarkannya bertemu Rene Guénon (baca: Gino) salah seorang freemason kenamaan dari Perancis. Sejak berusia 16 tahun, Schuon telah membaca karya Guénon, Orient et Occident. Kagum dengan pemikiran Guénon, Schuon saling berkirim surat dengan Guénon selama 20 tahun.

Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya, untuk pertama kalinya Schuon bertemu dengan Guénon di Mesir pada tahun 1938. Schuon akhirnya memeluk Islam dengan nama Isa Nuruddin Ahmad al-Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.

Bagi Schuon, agama memang berbeda pada tiap-tiap simbolnya. Orang Islam mendirikan shalat, umat Kristen berdoa di gereja, dan Hindu beribadah demi Nirwana. Namun, bagi Schuon, pada substansinya masing-masing agama merujuk pada satu Tuhan yang sama.

Kalimat inilah yang kemudian ia namakan menjadi religio perennis (agama abadi) dan diterjemahkan Nurcholish Madjid empat puluh tahun kemudian dengan nama inklusifisme. Apa yang dimaksud agama abadi tidak lain ada kebenaran abadi yang dibawa masing-masing agama hingga saat ini.

Menariknya kalimat “In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome” itu pula yang menggema di pikiran Komarudin Hidayat hingga kemudian ia berujar:

“Implikasi praktisnya dalam beragama adalah tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai satu-satunya yang benar secara otomatis adalah jaminan memperoleh keselamatan. Demikian sebaliknya, tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai sesat dan kafir sekalipun tidak secara otomatis memperoleh neraka dan kesengsaraan di akhirat kelak”

Perenialisme berbeda dengan New Age, jika New Age meminta manusia untuk tidak mementingkan lagi agama, perenialisme masih butuh agama. Karena agama adalah kunci ekspresi spiritualitas seseorang, walau tidak lama kemudian perenialisme menyatakan tidak semua agama benar, sekaligus tidak semua agama salah. Yang salah jika sebuah agama tertentu mengklaim diri paling jitu. Ini problem, bagi pengikut “agama” Schuon.

Pemikiran Schuon tentang titik temu agama-agama pada level esoteris secara konseptual masih bermasalah. Sebab pada tingkat esoteris pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.

Schuon ini nampaknya didorong oleh suatu motif agar antar agama-agama yang ada di dunia tidak terjadi pertentangan. Tapi teorinya cenderung membenarkan semua agama. Padahal Islam adalah agama yang justru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada agama-agama sebelumnya.

Rupanya ini pula yang dimaksud Hanung. Filmnya berjudul ?, walau memang rilis tahun 2011, namun sejatinya skenario itu sudah ditulis oleh Schuon jauh hari Hanung hanya mengkopinya ke layar kaca lewat tokoh Rika, Surya, dan Hendra.

Yang menjadi pertanyaan sekarang sebenarnya sederhana: apakah Hanung Bramantyo adalah juga seorang freemason sama dengan Schuon? Semoga saja tidak.


Referensi
Adnin Armas, Gagasan Fritjof Schuon Tentang Titik Temu Agama-agama, dalam Jurnal Islamia, Dibalik Pahama Pluralisme Agama, (Thn 1 No 3: Pustaka Khairul Bayyan, 2004)
Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Paramadina, 2001)
Dinar Dewi Kania, Mewaspadai Kebangkitan Filsafat Perenial, Makalah Diskusi Sabtuan INSISTS, 16/04/2011
Komaruddin Hidayat, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, (Jakarta: Paramadina, 1995
Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, (Jakarta : Penerbit Kompas, 2001)

Thursday, May 19, 2011

Aksi Bom dan Deradikalisasi

http://www.gatra.com/artikel.php?id=147881

Kadang terasa getir di hati kita mengikuti aksi-aksi terorisme kontemporer --apa pun dan di mana pun-- selalu saja dikaitkan dengan Islam atau gerakan Islam. Setidaknya kata "Islam" selalu terbawa-bawa (atau sengaja dibawa-bawa), baik oleh mereka yang menuduh maupun yang dituduh sebagai pelaku. Lihat saja, ketika terjadi peristiwa pengeboman WTC 9/11 dan Stasiun Kereta Api Madrid, Spanyol, belum genap lima jam, para analis langsung menyatakan bahwa ini pasti Islam.

Di Indonesia, ketika bom meledak di gereja, pasti orang berspekulasi bahwa pelakunya Islam. Tetapi, heran, ketika bom meledak di masjid Polres Cirebon, pelakunya kok juga dikatakan Islam. Bahkan, ketika paket bom dikirim ke berbagai sasaran yang cenderung meluas dan tanpa pola sepanjang Maret-April 2011, ada juga spekulasi bahwa itu dilakukan gerakan lama ekstremis Islam. Maka, tidak mengherankan (dan jangan ketawa) jika bom di gereja dalam film yang berjudul Tanda Tanya (?) karya Hanung Bramantyo pun, ternyata pelakunya Islam. Pahit, memang!

Tidak syak lagi bahwa "gerakan Islam" kini menjadi satu-satunya pelaku bom dan pengebom bunuh diri (suicide bomber) di dunia. Pada masa lalu yang tidak terlalu jauh, masih ada gerakan radikal Irish di Irlandia, ekstremis Hindu dan Sikh di India yang mengebom Perdana Menteri Rajiv Gandhi, atau Macan Tamil di Sri Lanka yang juga sangat dikenal sering melakukan bom bunuh diri.

Sekarang gerakan-gerakan itu telah mereda. Tinggallah para pengebom yang beraksi dengan mengatasnamakan atau membawa-bawa Islam. Indonesia, yang sejak dulu dikenal sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharjo, beberapa warsa setelah reformasi, mulai marak ketularan aksi terorisme.

Jika di Palestina, orang masih paham mengapa mereka --termasuk kaum perempuan seperti yang digambarkan Barbara Victor dalam Army of Roses (1986)-- melakukan bom bunuh diri: frustasi yang luar biasa atas penindasan HAM Israel atas bangsanya. Bisa dibayangkan, hampir setiap hari ada orang Palestina (ayah, suami, atau saudaranya) dibunuh di depan mata, tanahnya dirampas, dan permukiman mereka dikurung dalam tembok laksana penjara raksasa. Apalagi, peristiwa biadab itu berlangsung terus-menerus sejak 1940-an, yang ironisnya dilakukan di depan mata dan hidung dunia internasional yang mengaku beradab.

Juga jika bom bunuh diri itu dilakukan orang di Irak atau kawasan Timur Tengah lainnya, di mana politik Barat, khususnya Amerika, di kawasan itu memang sangat vulgar. Jika di negara-negara atau kawasan lain, intervensi politik dan ekonomi Barat dilakukan dengan "halus", di bawah permukaan, dan bersifat rahasia, maka di Irak invasi Amerika dilakukan tanpa tedeng aling-aling dan vulgar. Sebelum serangan di bawah payung PBB yang sekarang ini, berapa kali, misalnya, Amerika mengebom Libya dengan sewenang-wenang?

Lantas, pertanyaannya, apa alasan bom bunuh diri di negeri ini sekarang ini? Atau dengan kata lain, manakala itu semua digerakkan oleh suatu ideologi, maka "genre" ideologi macam apa ini? Jika itu sebuah gerakan (harakah), maka itu gerakan jenis apa? Dan, jika di balik aksi-aksi itu ada aktor intelektual sebagai pemimpinnya, maka kira-kira seperti apa orangnya dan kayak apa muslihat atau "karisma"-nya?

Pertanyaan-pertanyaan itu relevan, apalagi karena disinyalir akhir-akhir ini marak kembali gerakan radikal semacam NII dengan genre baru. Beberapa mahasiswi dan karyawati pun sudah ada yang kena dan masuk dalam gerakan ini. Sangat menarik untuk mengetahui bagaimana mereka bisa diindroktrinasi sehingga sampai pada kesimpulan bahwa gerakan NII-lah yang akan menjadi satu-satunya solusi atas problem akut bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, serta carut-marutnya semua persoalan bangsa dan negara sekarang ini. NII seakan-akan bisa menjadi obat mujarab, cespleng, dan tombo teko loro lungo!

Gerakan ini terkait erat dan organis dengan faktor-faktor yang multidimensional dan kompleks. Saya khawatir, fenomena ini semacam gerakan mesianisme atau milenarianisme, sebagaimana dulu terjadi pada pemberontakan radikal petani (lihat Sartono Kartodirdjo, Ratu Adil, 1984).

Saking putus asa karena tertindas, mereka menganut kepercayaan yang isinya mengharapkan kedatangan Ratu Adil yang dipercaya segera turun ke dunia ini untuk menyelesaikan berbagai macam kesulitan hidup menuju zaman keemasan. Gerakan semacam ini ada di seluruh dunia secara universal jika masyarakat mengalami keputusasaan yang meluas dan berkepanjangan akibat kemiskinan dan beban kehidupan yang berat.

Jika demikian halnya, maka deradikalisasi macam apa yang bisa dilakukan? Manakala fenomena ketidakpuasan sosial, bahkan frustrasi sosial, yang diakibatkan beratnya tekanan kehidupan dan kemiskinan semakin meluas seperti sekarang ini, bukankah cara mengatasinya harus juga secara menyeluruh? Wallahua'lam.
 

Hajriyanto Y. Thohari
Wakil Ketua MPR
[PerspektifGatra Nomor 24 Beredar Kamis, 21 April 2011] 

Sunday, May 15, 2011

Ajaran Pancasila Harus Direvitalisasi

http://nasional.kompas.com/read/2011/05/07/04010297/Ajaran.Pancasila.Harus.Direvitalisasi
Sabtu, 7 Mei 2011 | 04:01 WIB



Jakarta, Kompas - Pengajaran Pancasila sebagai dasar negara di dunia pendidikan harus direvitalisasi. Pola indoktrinasi dan penafsiran tunggal oleh negara semasa Orde Baru telah mengerdilkan Pancasila dan membuatnya ditinggalkan sebagai ideologi berbangsa dan bernegara.


Demikian desakan sejumlah kalangan, Jumat (6/5), tentang dihapuskannya pendidikan Pancasila dari sekolah di semua jenjang pendidikan serta perguruan tinggi. Mereka yang berpendapat, antara lain, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra; Direktur Reform Institute Yudi Latif; Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Budi Susilo Soepandji; anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah; serta sejumlah praktisi pendidikan dan pemimpin organisasi massa.


Azyumardi mengatakan, Pancasila yang dulu menjadi mata kuliah wajib sekarang memang tidak diajarkan lagi di perguruan tinggi. Ini berbahaya karena siswa dan mahasiswa tidak lagi mengenal dasar berbangsa dan bernegara. Mahasiswa bisa tergoda pada ideologi lain, seperti liberalisme, kapitalisme, militerisme, komunisme, kekhalifahan, dan ideologi lain, tanpa mengenal Pancasila.


”Padahal, nilai-nilai Pancasila yang digali dari masyarakat, seperti kerukunan, musyawarah, gotong royong, rela berkorban, dan nilai-nilai luhur lain, terbukti efektif menyatukan bangsa ini,” kata Azyumardi.


Memang setelah pengajaran Pancasila dilakukan secara represif oleh Orde Baru, Pancasila memiliki stigma di mata masyarakat. Karena itu, lanjut Azyumardi, diperlukan revitalisasi pengajaran Pancasila di semua jenjang pendidikan.


”Pengajaran Pancasila perlu dikontekskan dengan kondisi kekinian serta dibandingkan dengan ideologi-ideologi lain untuk membuktikan bahwa Pancasila yang paling cocok untuk Indonesia,” kata Azyumardi.


Yudi Latif mengatakan, Pancasila sebagai dasar pendidikan kewarganegaraan mengajarkan nilai-nilai kehidupan bersama, multikulturalisme, dan demokrasi berdasarkan musyawarah yang juga menghormati kelompok-kelompok minoritas.


”Pancasila berbeda sekali dengan demokrasi liberal yang tak memberi ruang sedikit pun kepada minoritas. Pancasila mengajarkan moral kolektif sebagai warga negara,” ujar Yudi Latif yang juga penulis buku Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas.


Direktur Program Wahid Institute Rumadi dan Yudi Latif sependapat, negara bukan lagi penafsir tunggal Pancasila. Justru semua kelompok masyarakat seharusnya dilibatkan dalam mewacanakan Pancasila sebagai moralitas hidup berbangsa dan bernegara.


Penghapusan Pancasila dari pelajaran di sekolah juga bukan tindakan tepat. ”Dampak negatifnya bisa kita prediksi,” kata Suryo Susilo, Ketua Forum Silaturahmi Anak Bangsa.


Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Tengah Sabran Achmad tak setuju jika pengajaran Pancasila dihapus.


”Pertikaian antarkelompok dan konflik agama yang sering terjadi saat ini karena nilai Pancasila, seperti kerukunan dan toleransi, ditinggalkan masyarakat. Sekarang malah pendidikan Pancasila dihapus,” kata Sabran.


Akan dirombak
Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 yang berlaku saat ini akan diubah karena memunculkan interpretasi dan pemahaman yang berbeda-beda di setiap sekolah. Interpretasi berbeda juga terjadi untuk mata pelajaran Kewarganegaraan yang di dalamnya masih mengulas nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan RI.


Untuk itu, pemerintah berencana merombak kurikulum dengan mengambil alih empat mata pelajaran, yakni Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Matematika. ”Keempat pelajaran itu itu adalah perekat sekaligus menjadi identitas nasional kebangsaan,” ujar Nuh.


Gubernur Lemhannas Budi Susilo Soepandji menegaskan, ideologi Pancasila bukan sekadar hafalan dan indoktrinasi. ”Lemhannas sedang merumuskan bagaimana mengajarkan Pancasila secara praktik di lingkungan kerja, permukiman, dan pendidikan,” kata Budi.


Anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah, menilai cara penyampaian materi Pendidikan Kewarganegaraan yang tidak disertai keteladanan akan menimbulkan sinisme dari siswa.


Direktur Sekolah Islam Dian Didaktika Murti Sabarini juga menegaskan, guru dan pimpinan negara harus memberikan keteladanan. ”Teori sesempurna apa pun tidak akan bisa dipahami murid jika tidak disertai keteladanan,” ungkap Sabarini.


Pengurus Yayasan Sekolah Islam Harapan Ibu, Sulastomo, mengatakan, nilai dan budi pekerti merupakan sesuatu yang abstrak sehingga tidak bisa dihafalkan.


”Harus diimplementasikan melalui pembiasaan dengan contoh nyata dan keteladanan,” tutur Sulastomo.(BIL/ABK/LUK/ ONG/NDY/BAY/THY)