Wednesday, June 24, 2020

Kesalehan artifisial

https://threadreaderapp.com/thread/1274859852146151424.html



Dalam sebuah laman facebook teman saya, mendadak ada banyak sekali postingan terkait dengan keputusannya untuk berhijrah. Ia memposting beragam video ustadz yang memberikan ceramah tentang kewajiban seorang muslimah untuk menutup aurat.



Tak lupa dengan imbuhan gambar berikut captionnya yang berkaitan dengan segala ancaman neraka dan juga sangsi sosial bagi para perempuan yang tidak segera memutuskan untuk berhijab.
Hijab dalam pengertian teman saya, juga harus yang lebar dan besar agar menjadi muslimah yang kaffah alias tidak setengah-setengah, begitu penjelasannya kemudian. Mereka yang memutuskan untuk berhijrah, menurutnya,
tak cukup hanya dengan menggunakan jilbab segi empat ukuran sedang yang biasa dipakai sehari hari. Ia haruslah syar’i.

Transformasi hijrah yang ia pahami, harus dimulai dari menutup aurat, itupun ditandai dengan penggunaan hijab syar’i.
Dan dari hijab syar’i, kemudian makna hijrah akan semakin paripurna jika beralih dengan penggunaan cadar. Disini, cadar dipahami sebagai ujung dari segala rangkaian proses berhijrah bagi muslimah.
Meskipun juga tak jarang, penggunaan cadar justru dipahami sebagai langkah awal atau penanda visual bagi muslimah yang ingin berhijrah.

***

Di lain kesempatan, ketika jemput anak sekolah, saya iseng bertanya kepada seorang kawan
. Ia juga seorang ibu, muslim, dan kebetulan tidak memakai jilbab. Saya mencoba membuka obrolan kami, dengan menunjukkan gambar dari postingan instagram sebuah kajian Islami beserta captionnya yang kurang lebih bertuliskan seperti berikut.
“Kasihan wanita yang keluar rumah tidak pakai jilbab, dosanya terus mengalir selama dia di luar rumah”.

Di bawah caption tersebut, turut disertakan sebuah dalil yang paling sering dikutip sebagai rujukan utama hukum pemakaian jilbab. Yaitu, Surat Al-Ahzab ayat 59.
Saya bertanya dengan sederhana, bagaimana responnya ketika membaca caption di atas?

Tentu saja ia sangat paham bahwa pertanyaan saya tersebut tidak bermaksud menjustifikasi atau mengintimidasi.
Saya benar-benar ingin tau, bagaimana ia, ketika dihadapkan dengan sebuah anjuran berjilbab namun memakai redaksi yang lebih gemar menakut-nakuti dengan segala ancaman surga neraka yang mereka imajinasikan.
Caption tersebut tidak memiliki relevansi sama sekali dengan dalil di bawahnya. Ia bukanlah sebuah ayat Al-Qur’an, pun juga bukan sebuah hadis yang sebenarnya jg masih harus diverifikasi melalui Jarh wa Ta’dil.
Ia, juga bukanlah seonggok ayat yang berdiri sendiri tanpa sebuah konteks yang melatarbelakangi. Tapi baiklah, saya tidak akan terlalu jauh membahas dalil dan hukum jilbab. Saya lebih tertarik membahas bagaimana kesalehan diri perempuan dipahami
selaras dengan realita sosial masyarakat yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bukan kesalehan visual pun artifisial yang acapkali memenuhi beranda media sosial masa kini.
Kembali ke kawan saya tadi. Ia menunjukkan wajah sedikit kikuk, dan dengan penuh kesadaran merespon begini.

“Saya tidak paham masalah begituan. Saya hanya paham bahwa masih banyak kebaikan lain yang bisa dikerjakan sekarang. Siapa yang tahu hati seseorang.
Aku cuma bisa husnudzan kepada Tuhan. Semoga jerih payahku saat memasak selepas shubuh untuk keluarga, menjaga anak-anak dengan segala kerepotan, dan juga usahaku mengurus orang tua yang sakit di rumah, juga dijadikan pertimbangan Allah jika aku berhak dapat pahala.
Aku tidak tahu, yang tahu hanya Allah. Yang penting aku juga jaga diri baik-baik.”

Saya manggut-manggut, seraya berkelakar dengan sedikit guyonan, karena memang kami sedang asik berbincang akrab.
Kami, masing masing pulang, dengan pertanyaan-pertanyaan janggal yang menggelayuti pikiran.

***

Pulang dari sekolah, seperti biasa kami memilih untuk melewati kampung dan area persawahan dekat rumah,
karena anak-anak kami selalu ingin lihat sapi di salah satu kandang di pinggir jalan.

Seorang ibu, paruh baya, terlihat sedikit kerepotan naik sepeda. Ia menggendong balita kecil di depannya dengan selendang jarik yang sebagian ujungnya menutupi kepala si anak
untuk melindungi terik matahari siang yang bisa-bisa menusuk kepala si bocah. Di boncengan belakang, terlihat sebuah keranjang lusuh berisi rantang, ceret, dan beberapa perlengkapan makan untuk dibawanya ke sawah tepat beberapa meter depan kami.
Kebetulan ibu itu berjilbab pendek nan sederhana. Ia mengenakan kaos pendek dan rok yang menyingsing keatas dikarenakan harus bersepeda.
Imaji cara berpakaian perempuan salehah yang diposting teman saya, dengan kostum baju dan jilbab syar’i sebagai simbol berhijrah dan kesalehan, seketika menyeruak.
Juga,tentang caption dari postingan instagram milik sebuah kajian keislaman diatas yang mengatakan bahwa perempuan keluar rumah tanpa jilbab maka setiap langkahnya dipenuhi dosa. Betapa sedihnya saya membayangkan nasib ibu tersebut,jika narasi keagamaan nampak begitu mengerikan.
Dalam hati, saya bertanya, ditujukan kepada siapa sebenarnya rentetan dalil tak berkonteks yang ada di beranda-beranda kajian Islami tersebut? Apakah potret wanita salehah adalah mereka dengan semua atribut yang berbau syar’i? Apakah hanya mereka yang berhak membaui surga?
Jika imaji salehah haruslah demikian, lantas bagaimana nasib ibu tadi yang tidak memakai baju tertutup seperti yang diimajikan mereka yang kerap mereduksi nilai-nilai agama melalui simbol-simbol artifisial?
Bagaimana nasib kawan saya yang dengan sabar mengurus keluarga sendiri dengan orang tua yang sakit di rumah, sedangkan ia tak berjilbab?

Bagaimana nasib ibu tersebut, yang keluar rumah dengan tidak berjilbab, berjibaku untuk suatu keharusan
demi mencukupi kebutuhan makan keluarganya esok hari? Guna memenuhi kebutuhan anak-anak mereka untuk bisa mencicipi bangku sekolah? Bekerja seharian di ladang dengan membawa balita kecil,
yang tak lagi memikirkan betapa populernya kata-kata hijrah yang justru menjauhkannya dari substansi kesejahteraan keluarga, demi menghidupi titipan Tuhan? Apakah harus berjilbab untuk membayar segala penat, lelah, tanggungjawab seorang ibu untuk mendapatkan ganjaran?
Ke siapa sebenarnya dalil-dalil tersebut ditujukan? Apakah hanya untuk perempuan urban, perempuan muslimah kelas menengah, yang sanggup membeli puluhan atribut dan simbol-simbol keagamaan lainnya tanpa berfikir keras tentang bagaimana mereka makan untuk esok?
Potret kesalehan perempuan muslimah sudah sedemikian dikapitalisasi, dan direduksi oleh mereka yang gemar menafsirkan teks teks suci secara bias. Dan kemudian dipopulerkan oleh ragam budaya populer, yang semakin menjauhkan nilai agama dari realita kehidupan masyarakat pedesaan.
Khususnya di lingkungan kami.

Kuntowijoyo membahasnya dengan menjelaskan bahwa cara beragama antara satu dan lain sektor serta lapisan sosial masyarakat punya diferensiasi, dan juga mempunyai karakteristik yang berbeda pula, didasari atas kriteria kelas sosial, umur, sex,
lingkungan sosial dan budaya. Kenyataannya, uniformasi beragama dianggap sebagai sesuatu yang ideal.

Apakah konsep beragama secara kaffah yang dipahami komunitas hijabers, para niqab squad, ibu-ibu kekinian nan syar’i,
akan sama dengan pemahaman kaffah bagi ibu dengan sepeda sembari menggendong balitanya tadi?

***

Hadirnya media baru menjadi salah satu faktor penting bagaimana pengertian hijab sebagai simbol agama lambat laun mulai berubah.
Hal ini juga ditunjang oleh bergesernya otoritas keagamaan dari teks-tradisionalis menuju popularitas relasional.

Oleh otoritas-otoritas baru inilah, hijab kemudian kerapkali ditafsirkan secara literal yang tak punya relasi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.
Ia ditafsirkan dengan bentuknya yang tunggal, tanpa melihat konteks sejarah juga kondisi sosial budaya.

Upaya penyeragaman cara beragama masyarakat hanya akan menghasilkan agama yang tidak dapat dimaknai secara menyeluruh.
Tercerabutnya agama dari simbol-simbol yang justru lebih populer hanya akan mereduksi agama itu sendiri. Karena selain mempunyai dimensi keatas, agama juga mempunyai dimensi kebawah yaitu sosial ekonomi.
Artinya, ketika agama tak mampu diterjemahkan dalam bahasa kemanusiaan sehari-hari, ia layaknya sebatas simbol tak bernilai.

Tuesday, June 2, 2020

#CeritaGuruAdeirra #hijab

https://threadreaderapp.com/thread/1174629083155591168.html
Profile picture
adeirra 🤓

Ndak usah ngotot gitu toh,
Hijabisasi itu jelas salah!
Skrg saya tanya, apa beda Hijab dan Jilbab?

Banyak yg asal pake kata 'Hijab'.
Ngga papa sih. Asal pas ditanya tau artinya. Jangan cuma bisa koar2 'dihijabin dulu dong!'
#CeritaGuruAdeirra #hijab

Simak Thread 👇



Pak Suono, (dipanggil ono).

Adalah Da’i panggung ke panggung yg rumahnya berjarak dua desa dari kediaman guruku.
Saat itu aku dan teman2 sedang ngaji mendalami kitab Ihya’. Ono pun tiba2 bertandang menemui guruku.

Ngliat aku ga pake jilbab, spontan ono melotot dan cocomeo,
“Ini gak bisa dibiarkan, ini kesesatan, pokoknya seluruh wanita di desa ini semuanya harus berhijab Syar’ieee” (pake’E’).

Mendengar hal itu guruku malah tertawa dan berkata “kamu ini no, datang kok langsung marah2, blm dapat jatah dari istri muda?, sini duduk, minum kopi dulu”
Ono: “mbah yai, Saya ini ngomong kebenaran, .... bla bla ... dalil dalil ... bla bla,.... Jika gak mau nurut, maka saya berlepas dosa dari anda”.

Guru: “oalah no, pekoknya orang sekampung jangan diborong semua toh. Apa buktinya kalo omonganmu yakin benar?”
#CeritaGuruAdeirra
Ono: “Jelas benar karena ini dari Al-Qur’an, tak terbantahkan, tak ada hukum yg lebih tinggi dari Al Qur’an!!”

Guru: “Iya, Al-Qur’an-nya udah pasti benar, TAPI apakah pemahaman kamu thd ayat2 Al Qur’an itu bisa dijamin kebenarannya?”

(seketika hening).
#CeritaGuruAdeirra
Ono: Tapi mbah yai, Saya ini ngomong kebenaran, dalilnya jelas.
Guru: Ndak usah ngotot gitu, Hijabisasi itu jelas salah! Skg saya tanya, apa beda Hijab dan Jilbab?

Ono : Jilbab adalah jalabib, artinya...
Guru: Heh, pertanyaan saya nomor satu adalah Hijab.
#CeritaGuruAdeirra
Ono: Uhmm, Hijab adalah .....
(garuk2kepala yg tak gatal).
Guru: Ayo jawab, kan tadi ngotot mau hijabisasi, ngotot kalo perkataanmu adalah kebenaran.

Ono : Uhmmm hijab tuh anu,, uhmm
Guru: Wis ora usah anu anu, sebab anuku & anumu jelas berbeda.
#CeritaGuruAdeirra
Guruku melanjutkan,
“𝗞𝗮𝗹𝗼 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗴𝗮𝗸 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗴 𝘀𝘂𝗹𝗶𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗺𝘂𝗱𝗮𝗵, 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗵𝗮𝗺 𝗶𝗹𝗺𝘂”

#CeritaGuruAdeirra
BRUKK!
guruku menaruh berbagai kitab kuning di hadapannya dan minta Ono buka halaman tertentu.

“Ayo buka kitab Sahih Bukhari halaman sekian dan sekian”

#CeritaGuruAdeirra
Bahkan mas ono aja tak tau mana kitab sahih bukhari dan mana tafsir jalalain.

“Nah ketahuan yah, bahwa kamu gak bisa baca kitab klasik, gitu ngototnya minta ampun”

Ngga cuma ono lho yg begini. Tapi masi banyak org2di muka bumi ini yg mirip kaya ono. Termasuk netijen2budiman.
Gaes, inilah dunia, yang penting adalah HIJAB SYAR’IEEE (pake ‘E”).

Komunitas hijabers, mereka yg selalu mengidentikan diri dengan citra wanita High Class dan melekatkan status ketakwaan yg paling ta’at.

Tanya aja @AmbarwatiRexy @dyyaaahhh ama @ftmwtdew, mrk jg prnh ktm.
Budaya hijabers booming akhir2 ini aja kan.

Entah sebenarnya mereka paham atau tidak ttg makna Hijab itu sendiri, malah ditambahi embel-embel Syar’ieee (Pake ‘E’).

Namun kata hijab yg digunakan utk istilah tersebut jadi tidak tepat dgn makna asli yg tertulis dalam Al-Qur’an
Ini bahaya, akibatnya jadi 𝗽𝗮𝗿𝗮𝗱𝗼𝗸𝘀 𝗴𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶.

Mereka mengkonstruksi nilai makna hijab itu semaunya mereka sendiri sehingga esensi dan nilai hijab bergeser menjadi sebuah trend fashion.

Fashion? IYA FASHION!!
#CeritaGuruAdeirra
Saking banyaknya gembar-gembor komunitas hijabers dlm berkampanye, justru mengakibatkan wanita muslim yg imannya labil jd krisis identitas. Kehilangan kesejatian diri, krn sekelilingnya berkuasa mendominasi.

Coba aja lihat sekelilingmu, sudah mulai ada trend hijabisasi kan?
Mereka pun masih bikin klasifikasi antara Hijab Syar’ieee dan Non Syar’i.

Yang hijabnya gak syar’i dikucilkan oleh mayoritas Hijabers Syar’ieee.
Diolok-olok, dikatain gak bisa masuk surga.

Apa akibatnya? Bisa damai? Bisa rukun?

(Btw 3 'e' mirip nama account siapa ya?)
Guruku pun melanjutkan,
No ono, dengerin yah. Katanya ukhuwah Islamiyah, tapi kok gitu?

Jelas Allah dawuh ‘𝘐𝘯𝘯𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘮𝘶`𝘮𝘪𝘯𝘶𝘶𝘯𝘢 𝘪𝘬𝘩𝘸𝘢𝘵𝘶𝘯’ - Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara. Tapi kamu kok gitu?

#CeritaGuruAdeirra #hijab
Kelakuan kayak gitu ajaran islam dari mana?
Apa mbahmu yang ngajarin gitu?

Kalo ngomong ngototnya sampe urat leher ampir putus, ini syar’ieee, ini kewajiban. Bahkan baca kitab aja kamu gak bisa.

Hayo lhooo... berapa banyak dari kita yg begitu?
#CeritaGuruAdeirra #hijab
𝗛𝗶𝗷𝗮𝗯 itu 𝘵𝘢𝘣𝘪𝘳/𝘵𝘪𝘳𝘢𝘪/𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯.

Nah kalo ada “𝗺𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻” 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗿𝘁𝗶 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗸𝗶𝗯𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮 𝗱𝘂𝗮 𝘀𝗶𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗶𝘀𝗮𝗵.

#CeritaGuruAdeirra #hijab
Contohnya : “Wa bainahuma 𝗵𝗶𝗷𝗮𝗯, wa 'alal a'rafi” ...dst. - dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf... dst.

Perhatikan lafadz hijab pada ayat tsb, diartikan sbg batas/dinding.
Sampe sini paham?

#CeritaGuruAdeirra #hijab
Contoh lagi pada Al-Isra’ 45
“ja'alna bainaka wa bainallazina la yu`minuna bil akhirati 𝗵𝗶𝗷𝗮𝗯𝗮𝗺 mastura”
Kami adakan antara kamu dan orang2 yg tidak beriman kpd kehidupan akhirat, suatu 𝗱𝗶𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴 yg tertutup.

Jelas yah, pada ayat di atas, Hijab diartikan dinding.
Saya kasih satu lagi, dalam Fushillat 5.
“wa fi azanina waqruw wa mim bainina wa bainika 𝗵𝗶𝗷𝗮𝗯𝘂𝗻”

dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada 𝗱𝗶𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴.

Dinding ya, boss, dinding.
Kamu make DINDING di kepalamu?
#CeritaGuruAdeirra #hijab
satu lagi yang paling fenomenal dijadikan dalil, yaitu Al Ahzab ayat 53.

“wa iza sa`altumuhunna mata'an fas`aluhunna miw wara`i 𝗵𝗶𝗷𝗮𝗯” - Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang 𝗧𝗮𝗯𝗶𝗿.

Jelas yah? TABIR.
Buat yang pengen tau sebab turunnya ayat Hijab Al-Ahzab 53, silahkan klik link berikut.
bit.ly/Asbab

ini kebenaran no, jangan hanya teriak marah2 trus gak tau ilmunya. Ketika ditanya apa sih beda hijab dan jilbab malah ngeles.
(Kaya siapa? Bisa cek timeline saya)
Jaman skg Hijab mengalami Pergeseran Nilai serta Fungsinya. Kita perlu paham mengapa bisa terjadi pergeseran.

Banyaknya komunitas Hijabers, harusnya lebih banyak mengajarkan ilmu-ilmu ttg agama dan Fiqih wanita.

Lha ini tidak.
#CeritaGuruAdeirra #hijab
Malah yg diperbanyak tuh koleksi jualan baju2 islaminya. Smtr ilmu agamanya ga bertambah. Mereka mengkonstruksi nilai dan makna Hijab mnrt kepentingannya sndr.

Disinilah banyak muslimah awam akhirnya krisis identitas, menganggap hijab sbg suatu gaya hidup dlm esensi ketakwaan.
Dampaknya, yg dikejar bukan ilmu agamanya, tapi ngejar budaya berbusananya utk diakui oleh golongannya.

Ohh kalo gamisnya udah ketinggalan jaman, bisa dibully habis2an tuh.

Ngga usah nyangkal mati2an. Introspeksi aja dulu.

#CeritaGuruAdeirra #hijab
Ini kan krisis identitas, sementara identitas terbentuk dari “interaksi” yg terjadi antara diri dan lingkungan sosial. Kalo gak sama dengan lingkungannya bakal dighibahin ngalor-ngidul.

sakit hati tapi gak berani ninggalin kelompoknya.
Kasihan kan?
#CeritaGuruAdeirra #hijab
Yg repot kalo berhadapan dengan lingkungan keluarga. Tiap hari isinya doktrin neraka dengan nada marah2.

Bisakah kita menemukan “𝘛𝘩𝘦 𝘙𝘦𝘢𝘭 𝘮𝘦” dari cara yg seperti itu?

Atau memang ingin seumur hidup jadi makhluk bertopeng?
Kaya yg ada di Sinchan.
#CeritaGuruAdeirra
𝗜𝗻𝗶 𝗷𝗲𝗹𝗮𝘀 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵,
𝗸𝗮𝗹𝗼 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙠𝙪𝙧 𝙠𝙚𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪𝙞 𝙗𝙪𝙨𝙖𝙣𝙖 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗲𝘀𝗲𝗻𝘀𝗶 𝘁𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗸𝗲𝘁𝗮𝗸𝘄𝗮𝗮𝗻.

Lha memahami definisi aja udah morat-marit, gimana bisa bener akhlaknya?
😌😌
#CeritaGuruAdeirra #hijab
Jangan dikira wanita muslim jaman jadul yg hanya pake jarit, kebaya dan kerudung non Syar’ieee tuh bodoh dan gak ngerti ilmu agama.

Justru mereka lebih hebat ilmu agamanya dari kita semua walau busananya non syar’ieee.
(Pake 3 'e' biar greget)
#CeritaGuruAdeirra #hijab
Jangan dikira Nyai Ahmad Dahlan (istri pendiri Muhammadiyah) adalah orang yang gak ngerti agama, jangan dikira istri Hadratusyeikh KH Hasyim Asy'ari, itu buta ilmu jilbab – hijab.

#CeritaGuruAdeirra #hijab
𝗕𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗯𝗹𝗺 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿, 𝘄𝗮𝗻𝗶𝘁𝗮-𝘄𝗮𝗻𝗶𝘁𝗮 𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮 𝘁𝘀𝗯 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗵𝗲𝗯𝗮𝘁 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮.

Berani kamu ngatain beliau2 masuk neraka karena gak pake hijab non syar’ie?
Kalo iya, pantaslah kl kamu 'mengaku2' ahli surga

#CeritaGuruAdeirra
Jadi kembalikan makna hijab sesuai asal makna ayatnya yg tertulis dalam Al-Qur’an.

Bahwa 𝗵𝗶𝗷𝗮𝗯 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝗮𝗯𝗶𝗿/𝘁𝗶𝗿𝗮𝗶/𝗽𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻, bukan sebuah fashion yg ditambahi embel2 Syar’ieee (pake 3 ‘e’)
#CeritaGuruAdeirra

(TAMAT)

Sunday, February 23, 2020

EKO KUNTADHI: TOTO HANYA ORANG YANG MENCINTAI INDONESIA

EKO KUNTADHI: TOTO HANYA ORANG YANG MENCINTAI INDONESIA: Toto Sudarto Jakarta - Tahun 2010. Publik Newyork terbelah pendapatnya. Pasalnya di lokasi dekat runtuhan gedung WTC yang hancur dihant...